Sehingga berburu pahala tidak selalu identik dengan ibadah yang terlihat besar, melainkan bisa dimulai dari hal sederhana seperti berbagi takjil, membantu keluarga tanpa diminta, atau mentransfer sebagian rezeki kepada mereka yang membutuhkan engan niat tulus karena Allah.
Jangan lupa pula memburu Lailatul Qadar yang nilainya lebih baik dari seribu bulan (QS. Al-Qadr: 3).
Karena meskipun tidak ada yang tahu pasti kapan datangnya malam itu, Rasulullah menganjurkan mencarinya di sepuluh malam terakhir
Sehingga memperbanyak doa seperti “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni” menjadi investasi spiritual yang tak ternilai.
Paruh Ramadhan bukan alarm untuk menyerah, melainkan pengingat bahwa waktu terus berkurang dan kesempatan tidak selalu terulang.
Sehingga alih-alih menghitung sisa hari menuju Lebaran, lebih baik menghitung peluang pahala yang masih bisa dikumpulkan.
Sebab siapa tahu Ramadhan kali ini adalah yang terakhir dan setiap detik yang dihidupkan dengan ibadah akan menjadi saksi yang menyelamatkan di hari perhitungan.***