Ali menekankan bahkan relawan bertugas karena sudah terlatih, dan itu pun masih dituntut untuk tetap ekstra hati-hati. Relawan datang untuk menolong, bukan menambah daftar korban.
Di titik inilah garis pembeda menjadi jelas: antara mereka yang datang dengan niat tulus membantu, dan mereka yang sekadar ingin tampil –bahkan lewat sumbangan sekalipun.
Yang pertama bekerja dalam senyap. Mereka mengangkat logistik, membantu menyalurkan, membersihkan puing, hingga mendampingi warga di pengungsian.
Yang kedua sering kali dating dengan kamera terus menyala, mengabadikan aksi heroik yang belum tentu berbanding lurus dengan dampaknya.
Baca Juga: Dark Triad Personality, Pejabat di Tengah Bencana: Berhenti Cari Perhatian!
Pencitraan di Tengah Luka
Selain mendang orang-orang tulis, tak bisa dimungkiri, bencana juga kerap membuka ruang bagi pencitraan. Bantuan diserahkan, berfoto sambil berpose dengan latar warga yang memela, lalu muncul di medsos.
Di permukaan kepedulian seperti terlihat nyata. Tai di baliknya terselip pertanyaan: siapa yang sebenarnya diuntungkan?
Bagi korban, kamera yang merekam tanpa izin bisa terasa seperti pelanggaran privasi. Salah satunya, duka yang belum sembuh dipamerkan ke ruang publik.
Padahal, yang mereka butuhkan adalah ruang aman untuk memulihkan diri agar kondisi benar-benar pulih, bukan sorotan kamera yang menambah beban psikologis.
Maka, Presiden Prabowo pun berkata tegas; “Kita datang untuk mencari solusi, melihat kesulitan, dan bertindak.
Air bersih kurang, akses masih terisolasi, logistik terlambat, bagaimana solusinya? Ini masalah konkret yang seharusnya dibawa setiap orang yang datang ke lokasi bencana.”
Etika Hadir di Lokasi Bencana
Ada etika sederhana yang semestinya dipahami bersama. Pertama, datang hanya jika dibutuhkan dan membawa manfaat nyata. Kedua, patuhi arahan petugas dan relawan di lapangan.