Dalam lima tahun terakhir, hutan di pegunungan Garoga memang berubah menjadi kebun sawit. Akar pepohonan yang dulu mengikat tanah kini tergantikan tanaman industri yang tak punya kekuatan serupa.
Ida kehilangan rumahnya dan hampir kehilangan anak perempuannya yang terseret arus sebelum akhirnya diselamatkan warga. Kini, keduanya hanya memiliki sisa-sisa puing dan gelondongan kayu yang berserakan.
Baca Juga: Umrah Saat Bencana, Prabowo Minta Mendagri Copot Bupati Mirwan
Kayu Hanyut Menumpuk dari Tapanuli hingga Sibolga
Sepuluh hari setelah bencana, kondisi di lapangan tak jauh lebih baik. Ribuan gelondongan kayu menutup sungai dan permukiman di Sibolga, Tapanuli Tengah, hingga Tapanuli Selatan.
Beberapa batang kayu bahkan tertancap di teras rumah warga, lainnya menghambat dan menutup aliran sungai sehingga bisa memicu banjir lanjutan.
Menurut Komandan Baznas Tanggap Bencana, Taufiq Hidayat, kayu-kayu itu bukan kayu tumbang alamiah, tapi potongan hasil tebang yang tertahan di hulu seperti bendungan liar.
Ketika curah hujan memuncak, tumpukan itu runtuh bersamaan. “Jadi kayu-kayu itu selama ini jadi seperti bendungan. Saat hujan ekstrem datang, semuanya lepas,” jelasnya.
Kerusakan Ekosistem: Dari Batang Toru hingga Bukit Barisan
Walhi Sumatera Utara mengungkapkan gelondongan kayu bisa hanyut dalam jumlah begitu besar hanya jika hutan rusak parah.
Direktur Eksekutif Walhi Sumut, Riandra Purba, menuding sejumlah aktivitas industri sebagai pemicu: PLTA Batang Toru, aktivitas PT Toba Lestari, hingga tambang emas PT Agincourt Resources.
Fenomena serupa juga terjadi di Aceh dan Sumatra Barat. Ketiga provinsi itu berada pada satu bentang ekologi penting: Pegunungan Bukit Barisan. Ketika hulu rusak, seluruh daerah aliran sungai ambruk.
Greenpeace menambahkan bahwa badai Siklon Tropis Senyar memang membawa hujan besar, tapi bencana sebesar ini tak akan terjadi jika hutan masih tegak.
“Ini murni akibat deforestasi yang sudah lama terjadi, diperparah curah hujan ekstrem,” kata Arie Rompas dari Greenpeace.