Kehilangan Tulang Punggung Keluarga
Bagi Rita, ayah adalah sosok pekerja keras dan penyayang. Dia yang membiayai sekolahdan kebutuhan Rita, bahkan setelah mereka ditinggal ibu.
Kini, Rita yang baru memasuki semester lima tiba-tiba kehilangan penopang utama hidupnya. Masa depan kuliahnya pun tergantung pada bantuan keluarga.
Saudara kandung Rita yang memiliki kebutuhan khusus kini dirawat sang bibi di Tarutung. Kondisi makin berat karena bibinya hanya penenun ulos dengan pendapatan tidak tetap.
Di sisi lain, sang bibi juga harus harus membesarkan dua anaknya seorang diri. Di tengah tekanan itu, saudara Ritakerap sering menangis dan menjauh dari keramaian posko pengungsian.
“Itulah mengapa kami akhirnya membawa saudaranya ke rumah bibi demi ketenangan,” kata Rita.
Baca Juga: Bupati Samosir Imbau Warga Tolak Bantuan dari Toba Pulp Lestari
Trauma yang Masih Menghantui
Sejak tragedi itu, Rita mengaku selalu merasa takut setiap kali harus pulang ke kampung. Kenangan akan ayah yang tak lagi menyambutnya membuat hati Rita sesak.
“Pulang ke kampung, aku merasa takut. Ayah tak ada lagi,” ujarnya lirih.
Padahal rumah mereka sebenarnya jauh dari lokasi longsor. Ayah Rita pergi ke Desa Mompang karena ingin membantu para korban.
Namun, niat baik itu justru membawanya pada takdir tragis setelah longsor susulan kembali terjadi.
Bertahan di Tengah Duka
Kini, di tengah kuliah yang harus tetap berjalan dan keluarga yang membutuhkan, Rita berusaha tegar.
Dia masih menunggu kepastian bantuan pemerintah dan berharap bisa melanjutkan sekolah demi mewujudkan harapan ayahnya.