Baca Juga: Ketika Komunikasi Terputus: Kisah Orang-Orang yang Menanti Kabar Keluarga di Tengah Bencana
Hutan Rusak Tanah Tak Mampu Menahan Air
Banjir bandang kali ini bukan hanya soal cuaca ekstrem, tetapi juga kondisi daratan yang semakin kritis. Dr. Heri Andreas dari ITB menegaskan tutupan lahan yang rusak membuat air hujan tidak lagi meresap dengan baik.
Akibatnya, limpasan permukaan pun meningkat drastis, mengalir deras ke sungai-sungai kecil yang tidak siap menampung volume air besar.
Sementara itu, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menyebut aktivitas pembalakan liar, alih fungsi hutan, dan penambangan emas sebagai penyebab utama kerusakan kawasan hulu.
Citra satelit beberapa tahun terakhir, kata Walhi, menunjukkan semakin luasnya area terbuka yang seharusnya berfungsi sebagai penyangga air.
“Tumpukan kayu gelondongan yang terseret arus adalah bukti nyata kerusakan tersebut,” ujar Jaka Kelana Damanik dari Walhi Sumut.
Wilayah hulu yang seharusnya menjadi benteng pertama pengendalian banjir justru menjadi titik awal bencana.
Akibatnya bisa ditebak, begitu hujan ekstrem turun, aliran air bercampur lumpur, batu, dan batang kayu besar meluncur deras ke permukiman, menciptakan banjir bandang dengan daya rusak besar.
Keluarga Terjebak di Hutan
Di tengah kepanikan dan arus banjir yang deras, banyak warga memilih melarikan diri ke area hutan. Namun hal itu justru membawa risiko baru.
Sekitar 50 warga Hutanabolon, Tapanuli Tengah, dilaporkan terjebak dan tidak bisa dievakuasi.
Salah satu keluarga yang terdampak adalah kerabat Rose Zebua, perantau di Jakarta. Dia mengaku sempat kehilangan kontak selama tiga hari.
“Terakhir dengar kabar, mereka lari ke hutan karena banjir sudah sampai rumah. Setelah itu tidak ada kabar sama sekali,” ujarnya.