Kesabaran Tiga Tahun yang Terbayar
Perjalanan tidak mudah. Banyak pohon yang mati sebelum besar. Para petani belajar dari nol: memahami teknik budidaya, pola air, hingga cara mengawinkan pohon kurma.
Baru tiga tahun kemudian, muncullah buah pertama.
Kurma yang tumbuh di tanah sendiri itu bagaikan oase di padang pasir.
Berita keberhasilannya menyebar cepat.
Warga yang dulu meremehkan kini justru datang berbondong-bondong untuk melihat langsung dan membeli kurma.
Baca Juga: Walk Out di Forum Reformasi Polri: Refly Harun dan RRT Protes Larangan Bicara untuk Tersangka
Dari Stigma Menjadi Kebanggaan
Keberhasilan itu mengubah pandangan banyak orang. Petani yang dulu skeptis kini ikut menanam kurma.
Kebun kurma mulai bermunculan di berbagai sudut Lombok Utara.
Lima tahun berjalan, kurma ini resmi terdaftar di Kementerian Pertanian RI sebagai Kurma Rinjani atau Kumari.
Bahkan pada 2025, Kumari menempati peringkat ke-7 kurma terbaik dunia di Festival Kurma Internasional Abu Dhabi.
Menanam Kurma: Capek Sekali, Untung Berkali-kali
Menanam kurma memang menuntut kesabaran karena baru bisa dipanen setelah tiga hingga empat tahun.
Namun setelah itu, pohon kurma berbuah setiap tahun tanpa perlu ditanam ulang seperti padi.