TITIKTEMU.CO - Bagi petani di Lombok Utara, NTB, menanam kurma dulu dianggap hal mustahil.
Lima tahun lalu, hampir tak ada yang percaya bahwa tanaman asal jazirah Arab itu bisa tumbuh—apalagi berbuah—di tanah Indonesia.
Kurma sudah terlanjur dikenal sebagai buah khas Timur Tengah, membuat siapa pun yang mencoba menanamnya di Lombok dianggap tidak realistis.
Amaq Lebih atau Risman Eka (53), petani asal Desa Rempek, mengingat betul masa ketika dirinya disebut “gila” karena mencoba menanam kurma di kampungnya.
“Waktu awal kami tanam, orang bilang kami tidak waras,” tuturnya sambil tersenyum.
Baca Juga: Status Gunung Semeru Level Awas, Warga di Zona Merah Diminta Segera Mengungsi
Dari Ragu Menjadi Yakin: Langkah Nekat Setelah Gempa 2018
Menanam kurma memang bukan hal biasa di Lombok.
Apalagi Desa Rempek berada dekat kawasan pegunungan Rinjani yang subur dan lembap—kondisi yang sangat berbeda dengan habitat kurma yang kering seperti gurun.
Biasanya, Amaq Lebih hanya menanam kacang, jagung, dan palawija lain di lahan 76 arenya.r
Namun setelah gempa besar mengguncang Lombok pada 2018, para petani justru memberanikan diri mencoba hal baru.
Meski ragu, mereka mencoba menanam kurma menggunakan planter bag.
“Bisa hidup enggak kurma kalau dibawa ke Lombok? Itu yang saya pikir waktu itu,” kenangnya.
Baca Juga: Kasus Korupsi Google Cloud Kemendikbud Naik Penyidikan, KPK Siapkan Pelimpahan ke Kejagung