Sebagai bentuk penghormatan, Tedjowulan kemudian diberi gelar Kanjeng Gusti Pangeran Harya Panembahan Agung (KGPHPA) dan menjabat sebagai Mahapatih Keraton.
Dia bahkan hadir dalam upacara Tingalandalem Jumenengan ke-8 PB XIII dan bersujud di hadapan sang raja sebagai simbol perdamaian.
Langkah besar ini menandai berakhirnya era dualisme kepemimpinan yang sempat membuat citra Keraton Surakarta tercoreng selama bertahun-tahun.
Baca Juga: Jalan Supit Urang, Peninggalan Strategi Militer Keraton Untuk Menjebak Musuh
Kiprah dan Peran PB XIII Sebagai Raja
Sebagai raja, PB XIII dikenal sebagai sosok yang tenang, berwibawa, dan berkomitmen kuat terhadap pelestarian budaya Jawa.
Dia menghidupkan kembali berbagai tradisi penting Keraton Surakarta seperti Grebeg Maulud, Sekaten, Labuhan, dan Kirab Malam 1 Sura.
PB XIII juga membuka keraton bagi masyarakat dengan menggelar acara-acara budaya dan religi yang bisa dihadiri publik.
Hal ini dianggap sebagai bentuk modernisasi sistem keraton tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisionalnya.
Selain itu, PB XIII aktif dalam kegiatan pelestarian warisan budaya seperti pameran keris dan tosan aji, festival gamelan, serta pergelaran wayang kulit.
Bahkan pada tahun 2018, ia menerima penghargaan MURI sebagai pemrakarsa wayang kulit dengan kelir terpanjang di dunia.
Revitalisasi dan Modernisasi Keraton
Setelah konflik internal berakhir, PB XIII mulai fokus pada revitalisasi fisik dan spiritual Keraton Surakarta.
Salah satu proyek besar yang diwujudkan adalah penataan Alun-alun Utara dan Selatan, yang rampung pada akhir 2024 dengan dukungan dana sekitar Rp35 miliar dari Kementerian PUPR.
Proyek ini membuka kembali akses publik ke kawasan bersejarah keraton yang sebelumnya tertutup. Langkah ini dianggap sebagai bentuk nyata kebangkitan Keraton Surakarta di bawah kepemimpinan PB XIII.