Endah juga menyoroti ritme produksi makanan massal yang sering dimulai dini hari untuk mengejar ribuan porsi.
Menurutnya, waktu penyimpanan yang lama dan suhu ruangan yang tidak stabil bisa memicu tumbuhnya bakteri.
> “Semakin banyak porsi, semakin panjang waktu masak dan penyimpanan. Di situlah risiko kontaminasi muncul,” jelasnya.
Ia meminta agar semua pihak, mulai dari penyedia dapur hingga pengawas lapangan, lebih teliti dalam memastikan sanitasi, suhu, dan bahan makanan tetap aman.
Baca Juga: Dari Singkong Jadi Energi: Langkah Serius Indonesia Menuju Kemandirian Bioetanol
Catatan Penting dari Kasus Gunungkidul
Kasus ini menjadi peringatan keras bagi pelaksana program makanan bergizi di sekolah.
Program seperti MBG seharusnya menjadi sarana menyehatkan siswa, bukan sebaliknya.
Di tengah niat baik memberi gizi untuk generasi muda, pengawasan mutu dan kebersihan dapur harus menjadi prioritas.
Karena dalam setiap sendok nasi yang disajikan, ada tanggung jawab besar: menjaga masa depan anak-anak Indonesia tetap sehat dan aman.***