TITIKTEMU.CO - Siang itu, suasana belajar di dua sekolah di Kabupaten Gunungkidul mendadak berubah mencekam.
Sebanyak 695 siswa dari SMKN 1 Saptosari dan SMPN 1 Saptosari dilaporkan mengalami gejala keracunan makanan setelah menyantap hidangan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa, 28 Oktober 2025.
Dari laporan resmi Pemerintah Provinsi DIY, sebanyak 476 siswa dan 10 guru di SMKN 1 Saptosari serta 186 siswa SMPN 1 Saptosari teridentifikasi sebagai korban.
Gejalanya beragam — mulai dari mual, sakit perut, hingga muntah. Sebagian harus dilarikan ke rumah sakit dan puskesmas terdekat.
Ironisnya, niat mulia program gizi untuk anak sekolah justru berbalik jadi duka massal.
Baca Juga: Jeritan dari Panggung Monas: Ketika Guru Madrasah Menuntut Keadilan yang Tak Kunjung Datang
Bupati Turun Tangan: “Taruhannya Nyawa Anak Kita”
Mengetahui kabar tersebut, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih langsung turun ke lapangan.
Ia meninjau sekolah terdampak dan dapur MBG di Saptosari untuk memastikan penanganan korban berjalan cepat.
Endah menyambangi dapur tempat makanan diproduksi — dari ruang penyimpanan bahan, pendingin, hingga tempat pencucian alat makan.
Dalam dialognya dengan penanggung jawab dapur, ia menegaskan bahwa kebersihan bukan sekadar formalitas, tapi soal nyawa.
> “Kalau ada bahan makanan yang diragukan, jangan dipakai. Taruhannya nyawa anak-anak,” tegasnya.
Baca Juga: Whoosh, Utang, dan Bayangan KPK: Ketika Proyek Ambisi Jadi Ujian Transparansi
Skala Produksi Besar, Risiko Juga Besar