Salah satu peristiwa yang menjadi pemantik munculnya gerakan G30S/PKI, bermula ketika Menteri Luar Negeri (Menlu) RI zaman itu, Subandrio, melakukan kunjungan ke Tiongkok, pada tahun 1960.
Kunjungan Subandrio itu didasari oleh kalangan elit PKI yang mengajukan permohonan penambahan persenjataan militer RI kepada Soekarno, dengan alasan demi ‘kepentingan kepentingan bersama’.
Kunjungan itu menunjukkan adanya penawaran persenjataan militer dari Perdana Menteri Tiongkok Zhou Enlai, dengan menjanjikan 100.000 pucuk senjata jenis chung secara cuma-cuma untuk kepentingan militer di Indonesia.
Baca Juga: Kisah Andra Soni Calon Gubernur Banten 2024, Dari Antar Teman Akhirnya Jadi Kader Partai Gerindra
Kemudian, Subandrio melaporkan penawaran Zhou itu ke Presiden Soekarno. Namun, sang presiden RI itu tidak kunjung mengambil keputusan terkait penawaran tersebut, hingga membuat para pemimpin PKI merasa tidak dianggap keberadaannya.
Suasana Saling Curiga Antara Militer dan PKI
Pada awal 1965, kalangan pemimpin PKI memberikan gagasan kepada Presiden Soekarno terkait 'Angkatan Kelima' yang berdiri sendiri, terlepas dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).
Namun, gagasan itu mendapat penolakan dari para petinggi militer di Indonesia dan menimbulkan suasana saling curiga antara militer dan PKI.
Suasana itu semakin panas, ketika PKI semakin berusaha memprovokasi bentrokan antara aktivis dengan polisi dan militer yang terjadi pada tahun 1963.
Selain itu, para pemimpin PKI, juga dinilai para petinggi militer angkatan darat RI, telah mempengaruhi tindakan represi (upaya menekan atau menindas) dari kalangan polisi dan tentara terhadap warga sipil dengan berdalih 'demi kepentingan bersama'.
Pemimpin PKI bernama DN Aidit, kala itu mengilhami kepentingan bersama itu dengan slogan 'Untuk Ketentraman Umum Bantu Polisi'.
Baca Juga: Syarat dan Cara Mengajukan Pinjaman Mandiri KUR Oktober 2024 Terbaru Tanpa Jaminan
Meletusnya Peristiwa G30S/PKI
Dalam buku Gestapu 65, pada 30 September 1965, operasi penculikan para jenderal militer Indonesia dipimpin Letnan Kolonel Untung Syamsuri, sebagai Komandan Batalyon 1 Cakrabirawa.