Rebahan Itu Produktif? Riset Ini Bisa Bikin Bos Berpikir Ulang soal Jam Kerja

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Minggu, 30 Agustus 2026 | 19:27 WIB

TITIKTEMU.CO-Kalau setelah berjam-jam menatap laptop Anda ingin rebahan selama beberapa menit, itu belum tentu tanda kemalasan. Bisa jadi tubuh sedang mengirim pesan sederhana: berhenti sebentar sebelum benar-benar habis.

Budaya kerja modern sering memuja kesibukan. Kalender penuh dianggap penting, lembur dianggap berdedikasi, bahkan makan siang sambil membalas email kadang diperlakukan seperti pencapaian. Masalahnya, otak dan tubuh manusia tidak dirancang untuk terus bekerja dalam mode “gas”.

Sejumlah riset justru menunjukkan bahwa jeda kerja dapat membantu pekerja mengurangi kelelahan dan memulihkan energi. Jadi, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan kenapa karyawan terlalu sering istirahat, melainkan kenapa istirahat masih dianggap musuh produktivitas.

Baca Juga: Dari Hambalang, Prabowo Soroti Karhutla hingga Syarat Prajurit TNI: Ada Pesan yang Dikirim ke Desa

Rebahan Produktif dan Sains tentang Microbreak

Dalam dunia psikologi kerja, ada istilah microbreak: jeda singkat dari pekerjaan, umumnya kurang dari 10 menit.

Sebuah meta-analisis yang menggabungkan 19 publikasi dengan 22 sampel penelitian dan total 2.335 peserta menemukan bahwa microbreak memberikan efek kecil tetapi signifikan dalam meningkatkan rasa bertenaga dan mengurangi kelelahan. Namun, efek langsung terhadap performa secara keseluruhan tidak terbukti signifikan.

Temuan ini penting karena membantah dua ekstrem sekaligus. Istirahat bukan pil ajaib yang otomatis membuat seseorang lebih produktif, tetapi juga bukan pemborosan waktu seperti yang sering diasumsikan.

Baca Juga: Dari Hambalang, Prabowo Soroti Karhutla hingga Syarat Prajurit TNI: Ada Pesan yang Dikirim ke Desa

Dengan kata lain, rebahan bisa berguna untuk recovery, meski bukan berarti setiap lima menit di sofa otomatis menghasilkan pekerjaan yang lebih baik.

Kenapa Pekerja Burnout Butuh Jeda?

Bayangkan otak seperti baterai yang terus digunakan untuk berpindah dari satu rapat ke email, lalu spreadsheet, kemudian notifikasi Slack, dan kembali ke rapat.

Masalahnya bukan hanya jumlah pekerjaan. Perpindahan perhatian yang terus-menerus juga menguras energi mental.

Baca Juga: KIP Kuliah 2026 Belum Tutup! Masih Ada Waktu, Tapi Jangan Tunggu Sampai Oktober

Tinjauan sistematis terhadap 83 studi mengenai work breaks pada pekerja pengetahuan menemukan bahwa jeda berkaitan dengan pemulihan dan kesejahteraan, dengan faktor seperti durasi, frekuensi, aktivitas, serta pengalaman selama istirahat ikut menentukan hasilnya.

Artinya, berhenti sebentar bukan berarti keluar dari produktivitas. Dalam kondisi tertentu, berhenti justru menjadi bagian dari cara mempertahankan kemampuan untuk terus bekerja.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Leihana

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X