Suku Bunga AS Jadi Kartu Penting
Faktor lain yang tidak kalah menentukan adalah kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat. Pertemuan bank sentral pada pekan depan berlangsung ketika harga minyak mentah sedang meningkat.
Kenaikan harga minyak dapat mendorong inflasi. Jika inflasi tetap tinggi, bank sentral Amerika berpotensi mempertahankan suku bunga pada level tinggi, bahkan pasar juga mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga.
Baca Juga: Dudung Bicara Keras soal Pencuri Ayam Tewas di Bali: Salah Tetap Salah, Tapi Nyawa Bukan Hukuman
Suku bunga tinggi biasanya membuat dolar AS lebih kuat. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap harga emas dunia yang diperdagangkan dalam dolar.
Menariknya, pelemahan rupiah justru bisa menjadi penahan bagi harga logam mulia di pasar domestik. Ibrahim memperkirakan rupiah berpotensi melemah hingga melewati Rp18.000 per dolar AS, bahkan sekitar Rp18.200 dapat menjadi level yang ikut menahan penurunan harga emas dalam rupiah.
Jadi, pergerakan harga emas pekan depan kemungkinan tidak sesederhana “naik atau turun”. Ada geopolitik, dolar, minyak, suku bunga, perang dagang, dan rupiah yang saling tarik-menarik.***
Artikel Terkait
UKKJ Guru Madrasah 2026 Segera Digelar, Kemenag Siapkan 14.080 Formasi untuk Kenaikan Jenjang Jabatan
Dudung Bicara Keras soal Pencuri Ayam Tewas di Bali: Salah Tetap Salah, Tapi Nyawa Bukan Hukuman
Viral Mie Gacoan Matraman Disebut Diserang Kelompok Berparang, Polisi Bongkar Cerita Sebenarnya
Conan Movie 29 Terlihat seperti Film Aksi Gila-gilaan, Sutradaranya Justru Bilang: “Bukan Itu Tujuan Kami”
12 Drakor Cinta Beda Zaman yang Bikin Susah Move On, dari Lovely Runner sampai Goblin
Jangan Sampai Jadi Korban! TASPEN Perluas Kanal Resmi untuk Lawan Modus Penipuan
Dulu Ditolak Jadi Pramugari, Perempuan Papua Ini Malah Membawa Pulang Lisensi Airbus A320