Sudaryono Sidak Dapur MBG di Bogor, Kepala SPPG Curhat Kesulitan Salurkan Makanan untuk Ibu Hamil dan Balita

photo author
Achmad Zainur Roziqin, TitikTemu.co
- Jumat, 24 Juli 2026 | 21:35 WIB
Menyoroti aksi sidak dapur MBG yang dilakukan Kepala BGN, Sudaryono ke SPPG wilayah Bogor, Jawa Barat. (Instagram.com/@sudaru_sudaryono)
Menyoroti aksi sidak dapur MBG yang dilakukan Kepala BGN, Sudaryono ke SPPG wilayah Bogor, Jawa Barat. (Instagram.com/@sudaru_sudaryono)

TITIKTEMU.CO – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Bogor, Jawa Barat, sebagai upaya memastikan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan sesuai standar.

Kegiatan tersebut dibagikan langsung melalui akun Instagram resminya, @sudaru_sudaryono, pada Jumat (24/7/2026). Dalam unggahannya, Sudaryono mengungkapkan dirinya sudah berada di lokasi sejak dini hari untuk memantau proses penyediaan makanan.

Ia menjelaskan bahwa sidak dilakukan guna memastikan seluruh tahapan pengolahan makanan memenuhi standar kebersihan, keamanan pangan, dan kualitas sebelum didistribusikan kepada para penerima manfaat.

Baca Juga: Sekolah Rakyat Terintegrasi Bali Mulai Beroperasi, Menteri PU Pastikan Fasilitas Siap Dukung Proses Belajar

Tinjau Langsung Proses Memasak Sejak Dini Hari

Sudaryono mengaku tiba di salah satu dapur MBG di kawasan Pasir Kuda, Bogor, sekitar pukul 03.00 WIB.

Kedatangannya yang tidak diberitahukan sebelumnya membuat para petugas dapur terkejut. Meski demikian, ia menilai langkah tersebut penting agar kondisi di lapangan dapat terlihat secara nyata tanpa persiapan khusus.

Selain memeriksa proses memasak, Sudaryono juga berdialog langsung dengan pengelola SPPG untuk mengetahui berbagai kendala yang dihadapi dalam menjalankan program MBG.

Kepala SPPG Curhat Distribusi ke Posyandu Lebih Rumit

Dalam kunjungannya, Sudaryono menerima masukan dari Kepala SPPG Pasir Kuda terkait tantangan penyaluran makanan bergizi.

Menurutnya, dapur tersebut setiap hari menyiapkan sekitar 2.800 porsi makanan. Sebagian besar di antaranya diperuntukkan bagi kelompok 3B, yakni balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Baca Juga: Kades di Bengkulu Divonis 2,5 Tahun Penjara usai Korupsi Dana Desa Rp577 Juta, Terungkap Modus Kegiatan Fiktif

Berbeda dengan distribusi ke sekolah yang dilakukan ke satu lokasi dalam jumlah besar, penyaluran ke posyandu dinilai lebih kompleks karena harus mengantarkan paket makanan ke banyak titik yang tersebar di berbagai wilayah.

Kondisi itulah yang membuat proses distribusi membutuhkan tenaga dan waktu lebih banyak dibandingkan pengiriman ke sekolah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Achmad Zainur Roziqin

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X