Karena saat resign, biasanya ada pengeluaran yang ikut berkurang, seperti biaya transportasi harian, makan di luar, hingga kebutuhan penunjang pekerjaan tertentu.
Dana Darurat Tetap Wajib
Penghasilan sampingan yang stabil saja belum cukup.
Idealnya Anda juga memiliki dana darurat minimal 6–12 kali pengeluaran bulanan sebelum mengajukan surat resign.
Jika kebutuhan hidup Rp8 juta per bulan, berarti dana darurat yang sehat berada di kisaran Rp48 juta hingga Rp96 juta.
Dana ini berfungsi sebagai bantalan ketika bisnis sedang sepi, proyek freelance tertunda, atau kondisi ekonomi tidak berjalan sesuai rencana.
Banyak orang gagal setelah resign bukan karena kurang berbakat, melainkan karena kehabisan waktu dan uang sebelum usahanya berkembang.
Baca Juga: Rupiah Nyaris Rp18.000 per Dolar AS, Haruskah Masyarakat Panik? Ini Penjelasan yang Jarang Dibahas
Uji Coba Sebelum Melompat
Salah satu cara terbaik mengurangi risiko adalah menjalani "simulasi resign".
Cobalah hidup selama tiga hingga enam bulan hanya menggunakan penghasilan sampingan, sementara gaji utama disimpan atau diinvestasikan.
Metode ini akan menunjukkan apakah model penghasilan baru Anda benar-benar siap menopang kehidupan sehari-hari.
Jika selama periode tersebut kondisi keuangan tetap sehat dan tekanan mental masih terkendali, itu menjadi sinyal positif untuk melangkah lebih jauh.
Jangan Hanya Menghitung Uang
Banyak orang fokus pada angka, tetapi lupa memperhitungkan faktor psikologis.
Saat menjadi karyawan, ada kepastian pendapatan setiap bulan. Setelah resign, kepastian itu hilang.
Karena itu, selain kesiapan finansial, penting juga memastikan Anda siap menghadapi fluktuasi pendapatan, ketidakpastian proyek, dan tanggung jawab yang lebih besar terhadap diri sendiri.
Artikel Terkait
Bukan Pelit, Tapi Smart Spending: Cara Generasi Baru Indonesia Mengelola Uang dengan Lebih Cerdas
MK Putuskan Jakarta Tetap Jadi Ibu Kota, Benarkah IKN Batal? Ini Fakta Terbaru Pembangunan Nusantara
Honda Prelude Hybrid 2026 Kembali Menggoda: Coupe Legendaris dengan Tenaga 203 HP dan Harga Hampir Rp1 Miliar
Rupiah Nyaris Rp18.000 per Dolar AS, Haruskah Masyarakat Panik? Ini Penjelasan yang Jarang Dibahas
Polemik Film "Pesta Babi" Makin Panas: Antara Hak Publik Mengetahui Papua dan Hak Individu atas Privasi
Senyum yang Menyakitkan: Toxic Positivity di Balik Obrolan Lebaran dan Reuni Keluarga
"Cukup" Adalah Kata Paling Revolusioner di 2026 — Kenapa Orang Indonesia Susah Mengucapkannya?