Khadijah, Perempuan Luar Biasa yang Melampaui Zamannya

photo author
Ken Maesa Pamenang, TitikTemu.co
- Sabtu, 21 Februari 2026 | 16:05 WIB
Khadijah, Perempuan Luar Biasa yang Melampaui Zamannya. (Freepik)
Khadijah, Perempuan Luar Biasa yang Melampaui Zamannya. (Freepik)

TITIKTEMU.CO - Sebelum wahyu pertama turun di Gua Hira dan mengubah arah sejarah dunia, ada satu nama yang tak bisa dilepaskan dari fase paling awal kenabian Muhammad SAW: Khadijah binti Khuwailid.

Dalam sejarah Islam, Khadijah bukan sekadar istri Nabi. Ia adalah saksi pertama turunnya wahyu, orang pertama yang masuk Islam, dan penopang dakwah di masa-masa paling sunyi dan genting.

Hari-hari menjelang turunnya wahyu adalah masa penuh perenungan bagi Nabi Muhammad. Ia kerap menyendiri, menjauh dari hiruk pikuk Makkah yang sarat praktik kemusyrikan dan ketimpangan sosial.

Namun di balik keheningan itu, ada sosok perempuan yang memahami kegelisahan beliau. Khadijah hadir bukan hanya sebagai pendamping, tapi juga peneguh keyakinan.

Baca Juga: Ali bin Abi Thalib dan Keitimewaan Gelar Karramallahu Wajhah yang Disandangnya 

Imam di Manchester, Asad Zaman, pernah menyebut Khadijah sebagai perempuan luar biasa yang perannya tak bisa diabaikan dalam sejarah Islam.

“Sejarah Islam sebagai agama besar tidak bisa dilepaskan dari kontribusi Khadijah,” ujarnya dalam satu kesempatan.

Dia menilai capaian Khadijah bahkan melampaui zamannya, sebuah standar yang masih menginspirasi perempuan modern belasan abad kemudian.

Baca Juga: Kisah Muawiyah bin Muawiyah al-Muzani, Sahabat Nabi yang Disalatkan 70.000 Malaikat

Latar Keluarga Terhormat dan Jiwa Mandiri

Khadijah lahir dari keluarga terpandang Quraisy. Ayahnya, Khuwaylid, adalah saudagar sukses di Makkah. Dari jalur nasab, garis keturunannya bertemu dengan Nabi Muhammad pada leluhur mereka, Qushay.

Ia berasal dari klan Bani Asad, yang pada masa itu memiliki pengaruh sosial dan ekonomi lebih besar dibanding Bani Hasyim, klan Nabi.

Sebelum menikah dengan Muhammad, Khadijah telah dua kali berumah tangga. Pernikahan pertamanya dengan Abu Halah bin Zurarah dikaruniai dua anak, Halah dan Hindun.

Setelah suaminya wafat, ia menikah lagi dengan Atiq bin ‘A’id al-Makhzumi. Namun takdir kembali membawanya pada duka. Suami kedua ini juga meninggal dunia.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X