Setiap rupiah yang terlalu lama mengendap adalah peluang ekonomi yang tertunda.
Menjelang tutup tahun 2025, pemerintah berada di persimpangan klasik kebijakan fiskal: mengejar realisasi belanja dalam waktu sempit, tanpa mengorbankan kualitas dan manfaat jangka panjang.
Tantangannya bukan sekadar menghabiskan anggaran, melainkan memastikan belanja benar-benar memberi daya dorong bagi ekonomi dan masyarakat.
Sisa Rp616 triliun bukan hanya angka di atas kertas. Ia adalah ujian apakah APBN mampu berfungsi sebagai instrumen yang responsif dan berdampak nyata.
Di detik-detik terakhir tahun anggaran, keberhasilan bukan diukur dari seberapa cepat uang keluar dari kas negara, tetapi seberapa jauh ia mampu menggerakkan roda ekonomi di dunia nyata.***
Artikel Terkait
Yogyakarta Jadi Tujuan Favorit Libur Natal dan Tahun Baru, Ini Alasannya
5 Film Indonesia 2025 Bertema Ibu, Cocok untuk Rayakan Hari Ibu
Ketika Komedi Lokal Nyalip Superhero: Agak Laen 2 Pecah Rekor Box Office
Bantuan Bencana Tak Dipajaki, Purbaya Ingatkan Wajib Ajukan Rekomendasi BNPB ke Bea Cukai
Dari Tahta Juara ke Ruang Perawatan: Musim Kelam Jorge Martin di MotoGP
Kisah Bentoel: Berawal dari Mimpi Ong Hok Liong hingga Jadi Raksasa Rokok Indonesia
OTT KPK Seret Tiga Jaksa di HSU, Kejagung Nonaktifkan Kajari, Kasi Intel, dan Kasi Datun
Film TIMUR Sisihkan Keuntungan Tiket untuk Korban Banjir Sumatera, Raffi Ahmad: Kita Mungkin Tak Sedarah, Tapi Bersaudara
Raffi Ahmad dan Film TIMUR Salurkan Hasil Tiket untuk Korban Bencana Sumatera, Wujud Nyata Kepedulian Perfilman Indonesia
Miris! Warga Desa Sekumur Aceh Tamiang Terpaksa Gunakan Air Sisa Banjir untuk Memasak