Jejak Hutan di Balik Nikmatnya Secangkir Kopi Gayo

photo author
Ken Maesa Pamenang, TitikTemu.co
- Sabtu, 6 Desember 2025 | 09:17 WIB
Jejak Hutan di Balik Nikmatnya Secangkir Kopi Gayo. (Breedie/Fauzan My)
Jejak Hutan di Balik Nikmatnya Secangkir Kopi Gayo. (Breedie/Fauzan My)

Bener Meriah, wilayah utama penghasil kopi Gayo, sesungguhnya adalah daerah dengan potensi alami luar biasa.

Sekitar 62% wilayah kabupaten atau setara 120 ribu hectare, masuk Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), rumah bagi berbagai jenis flora-fauna sekaligus benteng ekologis untuk pertanian kopi.

 Baca Juga: Ketika Logistik Terputus: Kisah Warga Berebut Harapan di Tengah Krisis Tapanuli dan Aceh

Namun data Global Forest Watch menunjukkan peringatan yang tidak bisa diabaikan:

Dalam dua dekade terakhir, Bener Meriah kehilangan sekitar 6 ribu hektare hutan. Ini setara denagn dua kali luas Kota Yogyakarta.

Tutupan hutan turun dari 110 ribu hektare pada 2001 menjadi hanya 104 ribu hektare pada 2023.

Jika hutan terus menyusut, kualitas lingkungan dataran tinggi Gayo akan berubah. Dan bersama itu, produktivitas serta cita rasa kopi Gayo pun berisiko menurun.

Karena itu, perlindungan hutan bukan lagi isu ekologi belaka, tapi juga merupakan persoalan ekonomi masyarakat.

Baca Juga: Operasi Udara TNI Dikebut: 76.500 Ton Bantuan Sudah Terbang ke Sumut–Aceh, Daerah Terisolasi Jadi Prioritas

Pemantauan Lanskap: Menjaga Kopi dari Angkasa

Untuk menjawab tantangan tersebut, sejak 2022 World Resources Institute (WRI) Indonesia menjalankan Inisiatif Pemantauan Lanskap di Bener Meriah.

Upaya ini melibatkan banyak pihak: Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Aceh Wilayah II dan III, Dinas Pertanian dan Pangan, hingga Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Bale Redelong.

WRI memperkenalkan teknologi pemantauan modern, termasuk Radar for Detecting Deforestation (RADD) berbasis satelit Sentinel-1.

Sistem ini memberikan peringatan dini deforestasi hampir real-time dan dapat diakses gratis melalui Global Forest Watch atau aplikasi Forest Watcher.

Dengan teknologi ini, pemerintah dan masyarakat bisa mengetahui pembukaan lahan baru dalam hitungan hari, bukan menunggu ketika kerusakan sudah terlanjur meluas.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X