Purbaya menjelaskan bahwa teknologi ini sangat diperlukan untuk menutup celah terjadinya penyimpangan serta meningkatkan akurasi monitoring barang masuk dan keluar.
“Kita pelajari dengan serius. Perkembangannya sudah cukup baik, dan saya yakin tahun depan sistemnya sudah jauh lebih aman,” ujarnya.
Ia optimistis bahwa integrasi AI akan meminimalkan peluang manipulasi, memperketat pengawasan, serta mengurangi potensi interaksi rawan korupsi.
Upaya Memulihkan Kepercayaan Publik
Pemerintah menyadari bahwa mengembalikan kepercayaan publik terhadap Bea Cukai bukan tugas mudah. Kasus-kasus sebelumnya, mulai dari dugaan pelanggaran hingga gaya hidup mewah pegawai, telah memperburuk citra DJBC.
Melalui langkah reformasi struktural dan pemanfaatan teknologi, Purbaya menargetkan pemulihan integritas DJBC sebagai lembaga yang profesional dan dapat dipercaya.
“Harapannya, Bea Cukai bisa bekerja lebih profesional dan bersih,” tegasnya.
Tahun ke depan menjadi periode penentu bagi DJBC. Keberhasilan atau kegagalan reformasi tidak hanya berdampak pada keberlangsungan lembaga, tetapi juga nasib ribuan pegawainya dan citra Kementerian Keuangan di hadapan publik.***
Artikel Terkait
Polda Metro Jaya Prioritaskan Gelar Perkara Khusus dalam Kasus Dugaan Ijazah Palsu Jokowi, Ini Perkembangan Terbarunya
Timnas U-22 Indonesia Resmi Berangkat ke SEA Games 2025: Hanya Jalani Dua Laga Grup Usai Drawing Diubah
Pemerintah Percepat Tanggap Darurat Banjir dan Longsor di Sumatera: 4 Pesawat Dikerahkan & Operasi Modifikasi Cuaca Dimulai
Usulan SIM Berlaku Seumur Hidup Menguat di DPR: Dinilai Ringankan Beban Masyarakat
DPR Soroti Pertumbuhan PDB 2025 Stagnan: Mayoritas Sektor Jauh dari Target RPJMN