TITIKTEMU.CO - Di usia 20 tahun, Yasika Aulia Ramadhany sudah disebut-sebut sebagai “ratu MBG” berkat kepemilikannya atas puluhan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Namun semakin besar skala bisnis ini, semakin banyak pula sorotan yang muncul. Mulai dari soal keuntungan jumbo, peran keluarga politik, hingga persoalan desain kebijakan MBG itu sendiri.
Program MBG menjadi salah satu proyek terbesar pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah. Namun, program untuk membasmi stunting ini justru bergulir menjadi sektor bisnis bernilai fantastis.
Baca Juga: Istana Tegaskan Pembentukan Tim Koordinasi MBG untuk Perkuat Kinerja Badan Gizi Nasional
Ya, di tengah polemik ini, nama Yasika Aulia Ramadhany mencuri perhatian. Betapa tidak, mahasiswi berusia 20 tahun itu mengelola 41 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), istilah resmi untuk dapur MBG.
Dapur-dapur tersebut tersebar di empat wilayah di Sulawesi Selatan. Sebanyak 16 di Kota Makassar, 3 di Parepare, 2 di Gowa, dan 10 di Kabupaten Bone.
Semua dapur itu berada di bawah payung Yayasan Yasika Group, meski secara legal menggunakan banyak nama yayasan berbeda.
Tidak mengherankan jika sosok ini menjadi sorotan, mengingat investasi yang dikeluarkan untuk mendirikan satu SPPG tidaklah kecil, sekitar Rp 1,5 miliar untuk bangunan dan perlengkapannya.
Jika dihitung total, investasi Yayasan Yasika Group mencapai Rp 61,5 miliar untuk 41 dapur, dan bisa bertambah Rp 4,5 miliar bila tiga dapur baru ikut beroperasi. Angka yang luar biasa besar untuk ukuran pengusaha muda.
Bisnis Bergizi yang Untungnya Berlipat
Setiap dapur MBG idealnya melayani 3.000–3.500 porsi. Jika 41 dapur Yasika Group beroperasi penuh, maka total layanan mereka diperkirakan mencapai 123.000 hingga 143.500 porsi setiap hari.
Pemerintah mematok harga satu porsi makanan MBG sebesar Rp15.000, dengan rincian biaya:
- Rp 10.000 untuk bahan makanan
- Rp 3.000 untuk biaya operasional dapur
- Rp 2.000 untuk keuntungan pemilik SPPG
Berdasarkan perhitungan Ombudsman, Yasika Group memiliki potensi meraih Rp246 juta hingga Rp 287 juta per hari, atau Rp 4,92 miliar hingga Rp 5,74 miliar per bulan. Ini keuntungan bersih, bukan omzet.
Artikel Terkait
Kemenkes Perketat Pengawasan Program MBG: Wajibkan SLHS, Awasi Proses Masak, hingga Gerakkan Puskesmas dan UKS
Fakta Terkini Kasus Keracunan Massal MBG di Bandung Barat: Temuan Bakteri, Evaluasi Program, hingga Usulan Dapur Sekolah
Kantin Sekolah Disulap Jadi Dapur MBG: Usulan DPR untuk Atasi Kasus Keracunan Massal
Makan Gratis, Tantangan Mahal: Polemik Dapur MBG dan Usulan Kantin Sekolah Jadi Solusi
Penutupan Dapur MBG Panakkukang 02 Makassar: Puluhan Pekerja dan Ratusan Siswa Terdampak