Lebih lanjut ia menuturkan bahwa setiap data keuangan daerah yang diunggah ke SIPD berasal dari Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) masing-masing.
Jika ditemukan kejanggalan, tim Kemendagri langsung turun melakukan pengecekan.
“Setiap anomali akan kami tindak lanjuti. Kami langsung cross check ke lapangan,” tegas mantan Kapolri tersebut.
Baca Juga: Utang Whoosh Bukan Drama: Danantara Janji Gas Terus, Negosiasi Jalan Terus
Meluruskan Daerah dengan Dana Mengendap Tertinggi
Selain meluruskan total dana mengendap, Tito juga mengklarifikasi soal daerah dengan simpanan dana terbesar, yang sebelumnya disampaikan Menkeu mencakup DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat.
Menurut Tito, data tersebut kembali berbeda karena perbedaan periode pencatatan. Misalnya, Menkeu menyebut Jawa Barat memiliki dana mengendap Rp3,8 triliun per Agustus 2025.
Sementara menurut Kemendagri, data terbaru per Oktober 2025 menunjukkan angka Rp2,6 triliun.
Ia menjelaskan bahwa ada dinamika belanja daerah seperti aktivitas Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) yang terutama banyak bergerak di sektor kesehatan dan rumah sakit.
“Dana BLUD itu memang berputar. Jadi wajar turun karena sudah dibelanjakan untuk operasional rumah sakit dan pembangunan infrastruktur daerah,” kata Tito.
Baca Juga: Aqua Subang Disemprot KDM: Jalan Rusak, Truk ODOL, Izin Air Tanah Terancam Melayang
Bukan Data Bertolak Belakang, Hanya Beda Waktu
Di akhir penjelasannya, Tito memastikan bahwa tidak ada kontradiksi antara data Kemendagri dan Kemenkeu.
“Keduanya benar, hanya beda periode. Jadi bukan soal siapa yang salah, tapi kapan data itu dicatat,” kata Tito.
Ia juga menegaskan bahwa data yang digunakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sudah sinkron dengan Kemendagri. “Case Jawa Barat clear. Per Oktober, dana mengendap Rp2,6 triliun,” tegasnya.***
Artikel Terkait
Drama Kilang Minyak: Dari Sindiran 'Malas' Jadi Chemistry Baru Menkeu dan Bos Pertamina
BPJS Nggak Naik Dulu Sampai 2026: Pemerintah Suntik Dana, Masyarakat Tarik Napas Lega
Pantai VS Pegunungan : Mana yang Paling Cocok untuk Gaya Hidup Slow? Ini Rekomendasi Kota yang Cocok
Jejak Radiasi Misterius di Kampung Sadang: Dari Logam Bekas hingga Skandal Cs-137
Aqua Subang Disemprot KDM: Jalan Rusak, Truk ODOL, Izin Air Tanah Terancam Melayang
Slow Living di Peri-Urban: Hidup Tenang Tanpa Putus Akses ke Kota , Panduan Pindah untuk Pemula
5 Tanda Kota Siap untuk Slow Living, Lengkap dengan Cara Menemukannya di Peta
Prompt Gemini AI yang Lagi Viral di TikTok Oktober 2025, Bikin Foto Auto Estetik
Di Desa Nglanggeran, Siapa Pun yang Datang Merasa Seperti Pulang ke Rumah Sendiri
Bahasa Portugis Masuk Sekolah: Menlu Sugiono Sebut Diplomasi Gaya Baru Prabowo atau Strategi Global Jangka Panjang?