Drama Sunyi Kabinet: Isu Perang Dingin Purbaya vs Luhut di Balik Arah Ekonomi Nasional

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Selasa, 21 Oktober 2025 | 20:15 WIB
Menyoroti ramainya isu perselisihan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dengan Ketua DEN, Luhut Pandjaitan.  (Instagram.com / @purbayayudhi_official - @luhut.pandjaitan)
Menyoroti ramainya isu perselisihan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dengan Ketua DEN, Luhut Pandjaitan. (Instagram.com / @purbayayudhi_official - @luhut.pandjaitan)

Ketegangan tersirat antara keduanya salah satunya terlihat saat membahas beban utang PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), operator proyek kereta cepat Whoosh.

Baca Juga: Drama Serius di Balik Istana: Purbaya Hampir Dihukum Push Up Gara-Gara Telat

Purbaya menilai utang tersebut tidak pantas dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Kalau pakai APBN agak janggal. Keuntungannya ke Danantara, kok bebannya ke negara?” kata Purbaya.

Ia menilai pihak yang paling bertanggung jawab adalah Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia, lembaga yang menjadi induk proyek tersebut dan kerap menerima dividen BUMN hingga Rp80 triliun.

Menurutnya, logika fiskal menuntut agar pihak yang menikmati hasil ikut menanggung risiko.

Namun Luhut memiliki pandangan berbeda.

Ia menegaskan isu utang Whoosh tidak perlu dibesar-besarkan dan sama sekali tidak akan membebani APBN.

“Whoosh itu tinggal restrukturisasi saja. Tidak ada yang meminta APBN membayar utang Whoosh,” tegas Luhut dalam sebuah forum ekonomi di Jakarta.

Baca Juga: Slow Living vs Hustle Culture: Hidup Bukan Lomba Lari, Bro!

Rencana Family Office Kembali Memanaskan Situasi

Persinggungan pendapat berlanjut saat membahas rencana pembentukan family office, lembaga pengelolaan kekayaan swasta yang digadang-gadang untuk menarik investasi global.

Gagasan ini dipromosikan Luhut sejak era Presiden Joko Widodo.

Purbaya menolak keras jika pembangunan lembaga itu memakai dana negara. “Kalau DEN bisa bangun sendiri, ya silakan. Anggaran dari saya tidak akan dialihkan,” ujarnya.

Ia bahkan mengaku belum memahami secara rinci konsep family office tersebut. “Saya belum lihat konsepnya seperti apa,” tegasnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X