Pasar Saham Indonesia 2025–2026: Dari Rupiah Stabil hingga Nikel Menggoda Investor

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Jumat, 5 September 2025 | 14:05 WIB
Ilustrasi indeks harga saham gabungan (IHSG) diproyeksikan cerah pada Semester II di tahun 2025. ((Unsplash.com/Annenygard))
Ilustrasi indeks harga saham gabungan (IHSG) diproyeksikan cerah pada Semester II di tahun 2025. ((Unsplash.com/Annenygard))

TITIKTEMU.CO - Memasuki semester II tahun 2025, angin segar mulai berhembus di pasar saham Indonesia.

Lembaga keuangan global JP Morgan Indonesia menyampaikan bahwa prospek pasar semakin cerah, meski awal tahun masih diwarnai gejolak eksternal seperti tensi perdagangan global.

Menurut Henry Wibowo, Head of Research and Strategy JP Morgan Indonesia, faktor pendorongnya cukup kuat: belanja pemerintah yang naik, konsumsi domestik yang ikut terdorong, hingga tren penurunan suku bunga global. Semua itu menjadi kombinasi yang bisa membuat pertumbuhan ekonomi lebih solid.

Baca Juga: Tunjangan Rumah DPRD DKI Jakarta Capai Rp70,4 Juta per Bulan, Diatur Lewat Kepgub 415 Tahun2022

Valuasi Pasar Modal Masih Menarik

Satu hal yang cukup mengejutkan, valuasi pasar modal Indonesia ternyata masih tergolong murah dibanding negara tetangga di Asia Pasifik.

Rasio price to earnings (PER) IHSG saat ini berada di kisaran 12 kali—salah satu yang terendah di kawasan.

Walaupun laba korporasi tahun 2025 diperkirakan turun sekitar 5 persen, JP Morgan optimistis situasi akan berbalik pada 2026 dengan potensi rebound 5 hingga 10 persen. Menurut Henry, fundamental pertumbuhan laba adalah kunci utama daya tarik pasar.

Tanpa pertumbuhan nyata, momentum hanya jadi “kembang api sesaat.”

Baca Juga: Fantastis! DPRD DKI Terima Tunjangan Rumah Rp70,4 Juta/Bulan, Keputusan Gubernur Era Anies Jadi Sorotan

Suku Bunga dan Stabilitas Rupiah Jadi Penopang

Kebijakan moneter juga tidak kalah penting.

JP Morgan memperkirakan The Fed akan menurunkan suku bunga acuan hingga 75 basis poin, dan Bank Indonesia bisa saja menyesuaikan BI Rate ke level 4,25 persen.

Selain itu, stabilnya dolar AS dianggap menjadi faktor yang menjaga rupiah tetap kuat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Sumber: Beberapa sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X