Dirut BRI Ungkap Strategi Tingkatkan Kualitas : Kredit Macet Menurun

photo author
Ipiek Riyanto, TitikTemu.co
- Rabu, 13 November 2024 | 09:47 WIB
Direktur Utama BRI Sunarso (dok. BRI)
Direktur Utama BRI Sunarso (dok. BRI)

TITIKTEMU.CO, Jakarta -Direktur Utama BRI mengungkap strategi Tingkatkan Kualitas Aset salah satu tujuannya untuk menurunkan rasio kredit bermasalahnya atau Non Performing Loan (NPL). 

Menurut Dirut Sunarso, dengan strategi tersebut BRI telah berhasil menurunkan rasio kredit bermasalah atau NPL. 

Baca Juga: Pengikut Pemain Timnas Indonesia di Sosmed dan Penonton di GBK Bejibun, Menjadi Sorotan Dua Pemain Andalan Timnas Jepang Ini

Tercatat hingga September 2024 NPL BRI turun menjadi 2,90%, dimana angka tersebut lebih baik dari pada periode yang sama tahun sebelumnyay aitu 3,07%.

"Tingkat kelancaran para debitur yang menurun atau downgrade juga telah berkurang. Secara kuartalan atau quarter on quarter (qoq), jumlah kredit yang downgrade menjadi "kurang lancar" dan "macet" telah berkurang sekitar Rp750 miliar," ungkap Sunarso di segmen Money Talks Power Lunch CNBC Indonesia, Selasa (5/11/2024).

Baca Juga: Begini Strategi BRI Turunkan Rasio Kredit Bermasalah Jadikan Kualitas Aset Semakin Baik

Ia kemudian mengungkapkan bagaimana bank pelat merah itu berhasil mengelola kualitas asetnya menjadi lebih baik.

Menurut Sunarso, ada beberapa cara yang ditempuh BRI dalam menurunkan tingkat NPL dan downgrade portfolio kredit.

"Pertama, adalah di front end, bagian pemasaran kita tekankan untuk tetap menumbuhkan kredit namun selektif dan kita perketat risk acceptance kriterianya dan juga proses underwriting-nya dengan penerapan prinsip-prinsip corporate governance yang lebih ketat," terang Sunarso. 

Baca Juga: Korban Kecelakaan Tol Cipularang Capai 30 Orang, Cerita Keluarga Pengendara yang Selamat: Sempat Video Call hingga Nonton Berita

Kemudian di bagian mid end, Sunarso menjelaskan portofolio kredit yang sudah di dalam neraca BRI itu harus dipersiapkan agar kualitas kreditnya terjaga.

"Caranya, dengan memperkuat monitoring, meningkatkan risk awareness. Selain itu, secara periodik bank yang fokus pada pembiayaan UMKM itu melakukan stress testing guna mengetahui arah gejolak dari portolio kreditnya, lanjutnya. 

Lalu Sunarso menambahkan, pada back end, yakni pada portfolio kredit macet yang sudah tak bisa diselamatkan, akan dilakukan restrukturisasi.

"Kalau sudah tidak bisa dijaga, tetap jatuh, diapakan? Hal itu di back end yang mengerjakan. Kemudian kita lakukan restrukrisasi, bahkan jika diperlukan kita lakukan early restrukturisasi," terang Sunarso.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ipiek Riyanto

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X