Bisa disebut para peserta pameran adalah perupa manula. Manusia usia lanjut. Tapi, tentu saja, manula yang produktif. Terus berkarya tanpa mengenal usia.
Mereka pun ingin menginspirasi generasi muda. Menciptakan dialog antargenerasi. Membuka ruang bagi berbagai generasi untuk berbagi pengalaman dan persepsi mengenai karya seni rupa.
Para perupa ingin menghidupkan kembali semangat kreativitas: Merangsang para seniman untuk bereksplorasi dan menghasilkan karya-karya seni.
Baca Juga: Konsolidasi Nasional 26 tahun IJTI. Nezar: Media Televisi Diminta Perbanyak Show Jurnalism
Kurator Pameran Dr Hadjar Pamadhi mengungkap pameran karya seni Oldies ini seperti lagu-lagu yang terhimpun dalam Golden Oldies Indonesia tahun 1950-1960, seperti Chrisye, Nike Ardila, Rhoma Irama, Achmad Albar, Benyamin dan yang lain-lain.
Lagu-lagu terasa merindukan dunia ‘memahami kita’, umpatan manis cinta, tentang asmara, bahkan tentang sekolah diharap paham tentang kita.
"Itulah dunia oldies lagu, maka serasa lagu Oldies Seni Rupa; karya-karya yang masuk sebagai imajinasi perupa adalah dunia realis," ungkap Hadjar Pamadhi yang selama ini dikenal sebagai pelukis Rajah.
Ditambahkannya, para perupa Oldies ini menerjemahkan dunia realis menjadi realisme semu, realisme sosial, bahkan surealisme.
Para perupa ini merepresentasikan menjadi dua kategori: seni representasional dan nonrepresentasional.
Juragan Erwan dalam tulisan pengantar pameran menuliskan fantasi dan imajinasi para perupa dalam berkarya pun banyak yang mengarah pada upaya reflektif masa lalu, dan mengungkap isu-isu sosial yang relevan dengan konteks masa kini.
Ada pula yang mengangkat lawasan, sesuatu yang kuno, yang old.
Upaya reflektif masa lalu diangkat oleh Christina Anggriyani (Siapakah Aku Ini), Dwi Retno Sri Ambarwati (Wanita Penjaga Kehidupan), Andaru Priyoko (Narima ing Pandum) dan Erwan Widyarto (Menjalani Takdir),
Sedangkan tema lawasan terlihat pada Bank Indonesia Jogja karya Agus Winarto. Atau I Will Survive karya Agung Suhastono yang memvisualkan sepeda onta.
Podang Suroto (Ngasem Tahun 1998), Pratiwi Endang Lestari (Desaku yang Kucinta) dan CH Sapto Wibowo dengan Radio Kuno.
Jika oldies adalah masa lalu, lawan dari kontemporer atau kekinian, maka banyak perupa yang mengangkat soal masa lalu seperti tarian, tokoh wayang maupun kehidupan sosial jual beli pasar tradisional.
Artikel Terkait
Keren , Pemuda ini Mengolah Limbah Kayu Jadi Lukisan 3 Dimensi
Ratusan Seniman Suarakan Keistimewaan DIY Lewat Pameran Seni Rupa
Melihat Keistimewaan Yogyakarta Lewat Pameran Seni Rupa
Terobosan Kalau Pemasaran Batik Jumputan di Yogya Merambah E-Commerce
Dukung Pameran Kriyanusa 2024, BRI Dorong UMKM Kerajinan dan Seni Kriya Naik Kelas
Berawal Dari Hobi, MINIMIZU Bawa Keunikan Dekorasi Alam ke Pameran Kriyanusa 2024
Gerebeg Maulid Di Keraton Yogya , Ada Apa ?