Ratusan Seniman Suarakan Keistimewaan DIY Lewat Pameran Seni Rupa

photo author
AB Soleh, TitikTemu.co
- Senin, 19 Agustus 2024 | 10:00 WIB
Pameran Seni Rupa bertajuk ‘Marwah Keistimewaan Untuk Nusantara’. (Pemprov Yogya)
Pameran Seni Rupa bertajuk ‘Marwah Keistimewaan Untuk Nusantara’. (Pemprov Yogya)

TITIKTEMU.CO,  Ratusan seniman mempersembahkan karyanya dalam gelaran Pameran Seni Rupa bertajuk ‘Marwah Keistimewaan Untuk Nusantara’. Pameran ini untuk memperingati 12 tahun Undang-Undang Keistimewaan DIY.

Ada lebih dari 100 karya pada pameran yang diinisiasi para seniman ini  dan dapat dikunjungi masyarakat secara gratis, mulai 12-30 Agustus 2024 di Gedung Saraswati, Museum Sonobudoyo Yogyakarta.

Sekretaris Daerah DIY Beny Suharsono secara langsung pun menyampaikan apresiasi dan menyambut baik terselenggaranya Pameran Seni Rupa tersebut. Beny menuturkan, baik di masa kini maupun di masa yang akan datang, besar harapan, kehidupan berkesenian dan karya seni di DIY dapat senantiasa “merawat” dan “membesarkan” ruh atau esensi Keistimewaan DIY, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para pendahulu.

Dikatakan Beny, Seni, seni sudah setua eksistensi manusia, dan merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Seni sejatinya bahkan merupakan identitas (a form of identity), baik identitas pribadi, identitas budaya, maupun identitas sosial.

Baca Juga: Keren, ISI Yogyakarta Akan Gelar Pameran Fotografi Internasional, 33 Negara Berpartipasi

Sebagai identitas pribadi, seni adalah cerminan perasaan, pemikiran, dan pengalaman pribadi seorang individu. Dengan mengapresiasi sebuah karya, berarti individu sedang berkenalan dengan sang seniman itu sendiri, tentang siapakah dia, apa nilai-nilai yang dipegangnya, dan bagaimana ia melihat dunia.

Sementara, sebagai identitas budaya, seni menyajikan catatan sejarah lengkap, tentang bagaimana dan ke arah mana sebuah kebudayaan bergerak, dalam kaitannya dengan waktu. Adapun sebagai identitas sosial, seni dapat berperan sebagai sang pembawa pesan tentang kondisi dan isu-isu sosial terkini.

“Dengan demikian, seni bukan semata-mata soal estetika, melainkan representasi kehidupan. Bukan hanya tentang menciptakan objek yang merangsang indera, melainkan tentang merefleksikan dan mengomentari realitas kehidupan, sekaligus memproyeksikan mimpi,” kata Beny.

Sementara itu, Kurator Pameran Seni Rupa 2024 Peringatan UUK DIY Hajar Pamadhi, menyebutkan, tajuk ‘Marwah Keistimewaan Untuk Nusantara’ terinspirasi dari sejarah perjuangan Yogyakarta. Tema tersebut didasari eksistensi UUK untuk mengangkat dan mengembangkan Yogyakarta sebagai Kota Perjuangan. Seperti yang dikatakan George Bridgman bahwa ‘In drawing, one must look for or suspect that there is more than is casually seen’.

Baca Juga: Agenda Pameran Dan Acara Budaya Seru Minggu Ini Di Yogya, Pas Untuk Mengisi Libur Panjang

“Maka, dengan mempresentasikan makna keistimewaan yang menjadi sebuah perjuangan, kami menghimpun dan mengajak para seniman menelusuri jejak perjuangan Yogyakarta. Pameran peringatan UUK ini mengambil makna marwah perjuangan, diartikan para peserta pameran diajak bersama dan membersamai memajukan prinsip keistimewaan dalam karya karya seninya,” ungkap Hajar.

Hajar mengutarakan, pameran seni rupa mengenang perjuangan UUK ini pun mengundang para perupa yang berdomisili di luar Yogyakarta untuk menggaungkan Marwah Keistimewaan melalui unggulan kompetensi menuju Indonesia Emas. Beberapa maestro seni diundang untuk bersama dan membersamai para perupa pejuang menuju 'Ruang Seni Indonesia’. Penampilan potensi seni ini memberi kesempatan seniman dalam berbagai genre karya rupa, mulai dari seni tradisi, seni klasik, seni modern maupun seni kontemporer berbasis 'Marwah Keistimewaan'.

 

Karya-karya yang dipamerkan secara garis besar menunjukkan 4 pola penciptaan, yang mengangkat problema masyarakat sebagai objek materialnya. Pertama karya-karya tersebut ada yang menunjukkan realisasi keadaan Yogyakarta sebagai Kota Istimewa. Ada pula problema akibat perubahan iklim terhadap perangai yang diangkat sebagai objek formal sesuai dengan interpretasi melalui langgam dekoratif, maupun realis serta nonvisual. Selanjutnya, menunjukkan problema kehidupan dianggap sebagai objek penciptaan dengan mendahulukan gagasan bentuk yang akan diwujudkan menjadi subjek non-visual namun diselesaikan secara konvensional dan objek material dicerna dan diinterpretasi menjadi objek formal dengan menitipkan pesan pribadi. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: AB Soleh

Sumber: Pemprov Yogyakarta

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X