TITIKTEMU.CO
SOLO - Sejumlah Tenaga Kesehatan (Nakes) di Solo, Jawa Tengah, mengalami demam tinggi setelah menjalani Vaksinasi Booster. Nuryani, warga Giriwono, Kota Wonogiri, yang bekerja sebagai perawat salah satu rumah sakit swasta di Solo, terpaksa minum obat penurun panas karena khawatir.
“Sebenarnya habis vaksin tidak boleh minum obat, tetapi karena menggigil, terpaksa minum obat penurun panas,” Papar Suharti, kakak kandung Nuryani, Selasa (24/8/2021)
Baca Juga: Angka Covid-19 di Jawa Tengah Turun Drastis, Gubernur Ganjar: Jangan Euforia!
Menurut Suharti, beberapa jam usai menjalani vaksinasi Covid-19 jenis Moderna, Senin pagi (23/8/2021) adiknya mengalami demam tinggi hingga 38.9 derajat celcius. Kasus serupa dialami teman-teman seprofesi Nuryani. Bahkan beberapa nakes ada yang mengalami demam tinggi hingga 39 derajad celcius.
“Hari ini rata-rata nakes yang divaksin di rumah sakit kemarin masih belum pulih dan belum bisa masuk kerja. Padahal Cuma dikasih cuti sehari oleh pihak rumah sakit,” ungkap Suharti
Baca Juga: Mencetak Kartu Vaksin Bisa Menimbulkan Resiko Rawan Penyalahgunaan, Begini Penjelasannya
Menurut penjelasan dr. Sienny Agustin di situs alodokter.com, setelah vaksin COVID-19, sebagian orang mengalami demam, menggigil, dan tubuh terasa pegal. Namun, bukan berarti itu gejala COVID-19, melainkan kejadian ikutan pasca imunisasi atau KIPI.
“Kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) adalah setiap kondisi atau gangguan kesehatan yang terjadi setelah imunisasi. Namun, kondisi ini tidak selalu memiliki hubungan sebab dan akibat dengan penggunaan vaksin,” katanya.
Baca Juga: Mengapa Penyintas Covid 19 Baru Boleh Divaksin Setelah Tiga Bulan Sembuh?
Dr. Sienny mengatakan, KIPI bisa berupa gejala ringan, seperti rasa tidak enak badan, bisa juga gejala yang berat, seperti reaksi alergi hebat yang menyebabkan sesak napas.
“KIPI yang parah bisa seperti syok anafilaktik, namun jarang terjadi. Usai vaksin, ada baiknya ditunggu selama 30 menit untuk memastikan ada keluhan atau tidak. Bila memang muncul keluhan, dokter dapat segera memberikan penanganan.” tulis dr. Sienny Agustin melalui situs alodokter. (ewa)