kesehatan

Hayo Kita Perlu Penyesuaian Pola Makan Setelah Puasa Usai

Sabtu, 13 April 2024 | 09:00 WIB
Makanan sehat (Pixabay/G.C)

TITIKTEMU.CO, Setelah bulan Ramadan berlalu, kita sudah terbiasa pola makan selama puasa. Dan setelah lebaran kita perlu penyesuaian ke pola makan rutin yang biasa.

Menurut pakar gizi UGM, Dwi Budiningsari, penyesuaian yang dilakukan misalnya membatasi konsumsi jenis makanan yang banyak mengandung gula, garam, lemak, atau makanan dan minuman yang manis, asin, dan berminyak.

“Kurangi makanan atau minuman yang mengandung karbohidrat sederhana, seperti makanan atau minuman yang terlalu manis,” ucapnya.

Saat melaksanakan puasa Ramadan selama 30 hari, terdapat perbedaan jenis, jumlah, dan waktu konsumsi makanan dan minuman dibandingkan hari biasa. Untuk itu, penyesuaian pola makan secara perlahan diperlukan mengingat terdapat perubahan pada proses metabolisme.

Menurut Dwi, pola makan yang baik dalam keadaan normal sesudah tidak berpuasa sebaiknya tetap menjaga pola makan yang sehat dan sesuai pedoman gizi seimbang dengan memperhatikan jumlah dan jenis bahan makanan, juga jadwal makan teratur yang tidak melewatkan waktu makan utama.

Baca Juga: 5 Buah yang Bagus untuk Dikonsumsi Selama Bulan Ramadhan, Cocok untuk Berbuka Puasa

Jenis bahan makanan perlu diperhatikan juga keanekaragamannya dan kelengkapan kandungan zat gizi seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Zat gizi mikro seperti vitamin A, C, D, E, mineral besi, dan zink berperan dalam meningkatkan fungsi imun.

“Antioksidan juga penting karena dapat menangkal radikal bebas yang membahayakan tubuh dan membantu meningkatkan sistem imun tubuh. Antioksidan dapat diperoleh dari apel, jeruk, ubi jalar, asparagus, bawang merah, bawang putih, brokoli, pepaya, dan wortel,” jelasnya.

Selama menjalankan puasa terdapat sejumlah kebiasaan yang muncul, seperti kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman yang manis saat berbuka puasa.

Jika tidak diatur, konsumsi gula yang berlebihan ini dapat berpengaruh terhadap kesehatan tubuh, yaitu meningkatkan risiko diabetes dan obesitas, menurunkan daya tahan tubuh, meningkatkan risiko penyakit jantung, serta memicu pertumbuhan sel kanker.

Kebiasaan lain yang muncul adalah kebiasaan makan makanan berat pada malam hari dalam rentang waktu 2 jam sebelum tidur. Hal ini menurutnya perlu dihindari karena dapat menimbulkan gangguan pencernaan seperti penyakit asam lambung dan sakit perut.

Baca Juga: Tips Jitu Puasa Sehat dan Antilemas bagi Penderita Obesitas Dari Pakar Unpad

“Asam lambung dari perut rentan naik ke kerongkongan saat seseorang langsung tidur setelah makan. Hal itu bisa menyebabkan seseorang merasa mulas, dada atau perut bagian atas nyeri, mual, sampai sakit tenggorokan,” paparnya.

Untuk itu, ia menyarankan agar masyarakat memilih alternatif makanan atau minuman yang mengandung gula alami seperti buah-buahan, dan mencukupi kebutuhan serat untuk menghentikan keinginan makan makanan manis.

Serat dari buah, sayur, kacang-kacangan serta biji-bijian akan membuat kenyang lebih lama sehingga nafsu makan dapat ditekan.

Halaman:

Tags

Terkini