Menjawab pertanyaan apakah teknologi ini hanya khusus untuk penyakit kanker, Tjondro menyatakan, memang 80 persen alat ini digunakan untuk kasus onkologi (kanker).
“Sisanya bisa untuk mendeteksi beberapa penyakit seperti epilepsy, demensia, gangguan jantung, demama yang tidak diketahui penyebabnya, hingga perencanaan terapi radiasi,” katanya.
Tjondro menegaskan, hadirnya teknologi ini sekaligus menandai komitmen RS Gading Pluit untuk menjadi Pusat Layanan Kanker Terpadu. Pasien bisa menjalani seluruh tata laksana penyakit kanker, mulai dari diagnostic, terapi, hingga evaluasi multidisiplin, dalam satu rumah sakit.
Data Global Cancer Observatory 2022 mencatat, pada tahun 2022 di Indonesia terdapat 408.661 kasus kanker baru dan 242.988 meninggal dunia. “Sejak awal, semangat kami adalah agar masyarakat Indonesia tidak perlu lagi mencari layanan kanker ke luar negeri. Dengan PET/CT Digital yang sudah tersedia di sini, berarti kami bisa menangani penderita kanker secara menyeluruh,” tambah Ang Kok Bin, Presiden Direktur PT Gading Pluit Jasa Medika.
Kehadiran instalasi ini di RS Gading Pluit, sudah dirasakan salah seorang pasien, Intan Khasanah, warga Jakarta Selatan. “Setahu saya, kalau penyakit kanker, semakin cepat dideteksi, semakin cepat ditangani, dan peluang remisi juga lebih besar. Dalam menghadapi kanker, waktu adalah segalanya,” ujar Intan.***
Artikel Terkait
Mantap, RSUD RA Kartini Siap Operasikan Ruang Kanker Terpadu
Bukan Hanya Global Check-Up Biasa, Program Cek Kesehatan Gratis Besutan Prabowo Bisa Deteksi Dini Kanker dan Gangguan Kejiwaan
Paus Fransiskus Keluar dari Rumah Sakit Setelah Dirawat Selama 38 Hari
Ternyata Ada 2 Korban Lagi Dari Dokter PPDS Unpad Cabul di RSHS, Terungkap Keduanya Merupakan Pasien: Masih di Rumah Sakit