Kemudian, surat yang diajukan kepada Dinas Parektaf dan Satgas Covid, panitia
mengajukan dengan target undangan sebanyak 5 ribu orang.
Hal tersebut menjadi penekanan pihak Kepolisian dan membuat pihak Kepolisian melakukan
beberapa pemeriksaan. Dan terlapor diduga telah melakukan pelanggaran ataupun
melanggar ketentuan pasal 360 ayat 2 dan Pasal 93 Undang-Undang No 6 tahun 2018
tentang kekarantinaan kesehatan.
Sampai saat ini terdapat 1 orang penanggung jawab berinisial HA sebagai terlapordan tidak menutup kemungkinan jumlahnya akan bertambah, berdasarkan keterangan atau fakta-fakta. Yang nantinya ditemukan juga orang-orang yang ikut bertanggung jawab dalam permasalahan tersebut.
Ditambahkan Kombes Komarudin, dari data yang ada, dimana sampai dengan bulan September panitia telah menjual tiket sebanyak 13.349. Ini tiket yang terjual secara online dimana panitia telah membuka penjualan tiket dari bulan April.
Pada bulan Oktober, panitia menjual 14.530 tiket. Total keseluruhan terjual oleh panitia 27.879 tiket. "Yang tentunya sangat berbanding terbalik dengan surat permohonan izin keramaian yang mencantumkan peserta sebanyak 3 ribu pada kepolisian dan 5 ribu di Dinas Parekraf dan Satgas Covid," ungkapnya.
Terlapor berstatus sebagai penanggung jawab event ataupun EO dari Emvrio Production. Polisi juga menaikkan status dari penyelidikan menjadi penyidikan.
“Kita juga baru menaikkan status sidik, mereka di BAP dengan fakta dan temuan-temuan yang di dapatkan. Contohnya untuk surat izin yang dikeluarkan dari Dinas Parekraf, Satgas Covid dan Kepolisian,” jelasnya.
Kombes Komarudin juga berharap bahwa masalah ini patut dijadikan pembelajaran bagi pihak
penyelenggara.
“Jangan memaksakan agar pengunjung dapat lebih banyak dan membludak, karena dampaknya akan sangat buruk, tentunya untuk pengunjung itu sendiri,” pungkasnya.
Sementara itu, di instagram juga banyak terlontar protes pada EO acara musik tersebut. Seperti yang diungkapkan @_jchi ini: One of the worst music festival this year, management nya kacaw balau.. bahkan mungkin kalah sama pensi2 SMA.
Keliatan mulai dari flow antar stages, placement antar panggung, sound system, crew, placement tenant makanan, semuanya gak dipikirin samsek. Gua bisa bilang gini, karena agak jauh dari logika aja sih di lapangan. Dan terakhir, bisa2nya jual tiket jauh lebih banyakkk dibanding kapasitas yang tersedia. Mau cari uang? Cari total audiences? atau cari apa? Jujur kecewa mayan berat.
Semoga dibubarkannya acara "Bedendang Bergoyang" di hari kedua, bisa menjadi pelajaran berharga untuk para EO.***
Artikel Terkait
Feby Sharon laporkan dugaan perselingkuhan suaminya, Kapolres Muara Enim ke Bareskrim Polri dan Div Propam
Meski terjerat kasus ngeprank polisi, Melanie Subono masih anggap Baim orang baik. Polisi periksa 7 saksi
KACAU PARAH SUMPAH: Festival Musik Berdendang Bergoyang di Istora Dihentikan Polisi. Ini Link Refund-nya
Woow! Ternyata Ini Penyebab Jin BTS Hadir di Konser Coldplay di Argentina
Setelah ada laporan istri sah kedua ke Polri, Kapolres Muara Enim AKBP Aris Rusdiyanto akhirnya dicopot
Demi Cintanya untuk ARMY, Jin BTS Paksakan Tampil di Konser Argentina Rilis Album Solo Dalam Keadaan Tak Sehat
Polrestro Jakarta Pusat naikkan status hukum kisruh konser musik "Berdendang Bergoyang" ke tahap penyidikan