TITIKTEMU.CO - Penyelidikan kasus kematian dari keluarga di Kalideres, Jakarta Barat telah selesai dilaksanakan dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk dari kedokteran forensik. Urutan dan penyebab kematian dari keluarga tersebut berhasil diungkap.
Dokter forensik Asri M. Pralebda mengatakan, hasil tersebut diperoleh setelah dilakukan pemeriksaan luar dan dalam terhadap empat jenazah keluarga.
Kesimpulan urutan kematian dalam kasus tersebut yakni diawali dengan kematian Rudiyanto, lalu Renny Margaretha, kemudian Budiyanto, dan terakhir adalah Dian.
Baca Juga: 8 Wisata Banyumas Favorit, Ada Spot Foto Patung Tangan Raksasa
Budyanto setelah diperiksa ternyata memiliki riwayat penyakit jantung. Setelah diperiksa menyeluruh penyebab kematiannya, dipastikan kematiannya karena serangan jantung terbaru dan tergolong akut.
“Kematian yang pasti dari Pak Budyanto adalah serangan jantung yang baru atau akut,” ujar Asri dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Jumat (9/12/2022).
Dalam paparan yang disampaikan, diungkapkan bahwa Rudiyanto meninggal karena pendarahan saluran cerna, Renny karena kelainan payudara, Budyanto karena serangan jantung, dan Dian karena gangguan pernafasan.
Sebelumnya, Ketua Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor) Indonesia, Reni Kusumowardhani menyebut Budyanto Gunawan, salah satu anggota keluarga yang ditemukan tewas di Kalideres menyukai hal-hal yang bersifat klenik perdukunan sejak SMA dan juga memiliki guru spiritual.
"Profil psikologi Budianto ini memang ciri kepribadiannya khas. Dia memiliki strategi koping dengan mencari alternatif-alternatif bukan pengobatan medis. Begitu juga dia meyakini sesuatu yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kehidupannya, termasuk finansial,” ungkap Reni di Polda Metro Jaya.
Hal tersebut, lanjut Reni, dijadikan harapan dan diyakini oleh Budyanto untuk memperbaiki masalah dalam keluarganya seperti kesehatan dan finansial. Namun, keyakinannya bergeser dari harapan (hope) menjadi putus asa (hopeless).
Baca Juga: Jelang Prancis Vs Maroko: Karim Benzema Semangati Koleganya. 'Ayo semua. Hampir sampai tujuan'
"Namun kenyataannya harapannya tidak juga kunjung datang sehingga ada pergeseran dari situasi berharap (hope) yang kemudian ke hopeless," tambahnya.
Hal tersebut berlanjut dengan kondisi keuangannya, lalu berupaya menjual aset namun sudah tidak ada, sehingga psikologisnya mencapai ke titik ketidakberdayaan, yang beresiko memperburuk kondisi fisik dan kesehatannya.