TITIKTEMU.CO, Sebagai kota yang penuh dengan kisah sejarah, Solo memiliki banyak bangunan bersejarah yang tetap lestari hingga kini.
Tak jarang, bangunan bersejarah di Solo masih banyak yang digunakan baik untuk pariwisata maupun untuk tempat umum. Salah satu ikon tersebut adalah Stasiun Purwosari, sebuah bangunan yang tidak hanya menjadi saksi perjalanan waktu, tetapi juga masih aktif digunakan hingga sekarang.
Berada di Jl. Slamet Riyadi, Purwosari, Laweyan, Stasiun Purwosari dibangun pada 27 Maret 1871 oleh Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), perusahaan kereta api swasta Belanda.
Lahan pembangunannya merupakan milik Pangeran Adipati Mangkunegoro. Pada masa itu, stasiun ini melayani jalur Semarang-Vorstenlanden (Solo dan Yogyakarta), yang digunakan untuk mengangkut hasil bumi dari pedalaman ke Pelabuhan Semarang untuk ekspor.
Baca Juga: Gereja Katolik St. Antonius Di Solo Punya Perjalanan Sejarah Yang Menarik
Pada awal 1900-an, Stasiun Purwosari mengalami renovasi besar-besaran guna kepentingan pelayanan penumpang maupun administrasi pegawai. Desain bangunan baru mengadopsi gaya arsitektur kolonial Belanda, yang mirip dengan Stasiun Kedungjati dan Stasiun Willem I Ambarawa. Ciri khas arsitektur ini masih dapat dilihat hingga sekarang, menjadikannya salah satu bangunan ikonik di Solo.
Meski telah berusia lebih dari satu abad, stasiun ini terus mengalami adaptasi. Hingga kini, Stasiun Purwosari berfungsi sebagai depo mekanik. Pengunjung yang menyukai sejarah juga bisa menemukan jejak masa lalu, seperti menara air di sisi utara stasiun, yang menjadi bukti keberadaan depo lokomotif di masa lalu.
Stasiun Purwosari telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya melalui SK Wali Kota Surakarta No.646/1-2/1 Tahun 2013. Stasiun Purwosari tidak hanya sebuah stasiun, tetapi juga sebuah cerita panjang tentang sejarah dan peran vital Kota Solo dalam transportasi di Indonesia.