Paku Buwono VI, Raja Surakarta di Simpang Jalan

photo author
Ganug Nugroho Adi, TitikTemu.co
- Jumat, 20 Agustus 2021 | 10:05 WIB
Sri Susuhunan Paku Buwono VI (Wikipedia)
Sri Susuhunan Paku Buwono VI (Wikipedia)

Residen Surakarta yang curiga langsung mengirimkan pasukan mengepung keraton. Sesampai di sana mereka justru mendapati Sang Raja dan Diponegoro tengah bertarung. Sang Pangeran kemudian berhasil melarikan diri. Raja Surakarta kemudian memaki-maki komandan pasukan yang dianggap menjadi penyebab Diponegoro kabur.

“Keduanya terpaksa berpura-pura berkelahi karena tertangkap basah pasukan sedang menyusun strategi,” tulis Syahban Yasasusastra, dalam Ranggawarsita Menjawab Takdir, 2008.

Di mata Pemerintah Belanda, Paku Buwono tidak memiliki sikap yang jelas antara mendukung Belanda atau Diponegoro. Namun, versi Keraton Surakarta menegaskan bahwa Sang Prabu sangat jelas berada di pihak Diponegoro.

Selain di keraton, beberapa kali Paku Buwono VI melakukan pertemuan rahasia dengan Diponegoro di hutan Krendawahana, sekitar 20 kilometer arah utara keraton. Paku Buwono VI bahkan beberapa kali memberikan pusaka keraton,  salah satunya Kyai Sandanglawe.

Paku Buwono VI
Paku Buwono VI (djawanews.com)

Dibuang ke Ambon

Dari Parangtrisitis, Belanda membawa Paku Buwono VI ke Semarang sebelum akhirnya diadili di Jakarta. Pada 8 Juli 1830, Sang Raja dinaikkan kapal Roepel menuju Ambon. Raja yang hanya berkuasa  selama 7 tahun tahun itu meninggal dunia secara misterus di pengasingan.

Paku Buwono VI sendiri naik tahta pada 15 September 1823 saat usianya masih 16 tahun, menggantikan ayahnya, Paku Buwono V. Ia merupakan anak laki-laki ke-11 dari selir  Raden Ayu Sosrokusumo. Dua permaisuri Paku Buwono V tidak memberikan keturunan.

Pengangkatannya sebagai raja sempat menjadi polemik internal keraton. Sebagai putra seorang selir, Raden Mas Sapardan dinilai tidak sah menjadi raja.

Baca Juga: Ken Dedes, Perempuan yang Menurunkan Raja-raja di Jawa?

Menurut undang-undang keraton, jika permaisuri raja tidak mempunyai putra, maka yang berhak atas naik tahta adalah adik raja yang lahir dari permaisuri yang sama. Adik raja yang dimaksud itu adalah Raden Mas Malikis Solikin alias Pangeran Purbaya.

Adalah Patih Sosrodiningrat II yang membujuk Pemerintah Belanda untuk mengangkat  Raden Mas Sapardan menjadi Paku Buwono VI. 

Tidak heran jika selama pemerintahannya, Raden Mas Malikis Solikin yang tidak lain pamannya sendiri terus menerus merongrong singgasana Paku Buwono VI.

Konon, terungkapnya peran Paku Buwono VI membantu Diponegoro salah satunya karena laporan dari Pangeran Purbaya. Kelak, Pemerintah Belanda memberi hadiah Pangeran Purbaya dengan mengangkatnya menjadi Raja Surakarta dengan gelar Paku Buwono VII.

Meninggal di Pembuangan

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ganug Nugroho Adi

Tags

Rekomendasi

Terkini

Arti Mimpi Ular Kuning dan Putih Apa?

Selasa, 26 Agustus 2025 | 11:35 WIB
X