Para Koordinator Wilayah FDI, dalam satu pertemuan secara online, bersepakat menggelar pameran serentak ini sebagai bentuk mangayubagya Hari Menggambar Nasional. Bulan Mei disepakati sebagai Bulan Menggambar dan 2 Mei sebagai Hari Menggambar Nasional.
Mengapa GoART menggelar pameran di 7 tempat sekaligus? Kelompok GoART ingin menegaskan bahwa pameran drawing serentak ini harus memiliki kesan mendalam. Ia tidak sekadar menjadi event pameran. Dan begitu usai pameran, selesai pula gaungnya.
Baca Juga: Prediksi Wolves Vs Manchester City: Perburuan Gelar Juara Liga Premier Sampai Akhir Kompetisi
GoART ingin pameran ini menjadi gerakan. Setidaknya gerakan untuk mendekatkan drawing ke masyarakat. Dan gerakan untuk menunjukkan bahwa menggambar bukan "seni elitis".
Melalui pameran ini, GoART membawa drawing masuk ke ruang publik. Karya drawing yang "mendatangi" tempat publik. Dipajang di kafe, rumah makan, rumah seni publik atau sanggar seni. Tentu, agar ada aspek edukasi atau penyadaran bahwa menggambar itu mudah dan murah. Tapi hasilnya wah!
Siapa pun bisa menggambar. Dan terbuka peluang untuk pengembangannya sebagai bentuk ekonomi kreatif. Dengan "modal" pensil, bolpoint, pensil warna, ataupun crayon, dengan corat-coret terarah, terstruktur dan massif, jadilah karya ekspensif.
Baca Juga: Positif Covid & Jalani Isolasi di New York, Ini yang Dilakukan Menkeu Sri Mulyani
Kalau ingin bukti, cobalah simak karya-karya drawing peserta pameran Quarto. Misalnya sambil ngopi atau ngeteh di Pawon Teh Tudung sekalian mengapresiasi karya-karya berkelas ini.
Ada karya Moelyoto (Denpasar) yang mengangkat kekayaan etnis Papua. Ada Wasis Soebroto (Jogja) dengan khasanah budaya Jawa. Sketsa kehidupan kraton digambarnya dengan sangat baik. Bisa dilihat pada gambar "Abdi Dalem dan Penjual Ndog Abang".
Atau Teguh Prihadi (Solo) yang mengulik berbagai fenomena sosial: dunia pertanian (Pasca Panen, Untuk Esok Hari), pasar (Dol Tinuku, Klitikan, Jenang Sumsum), maupun hidup keseharian (Saat Rehat dan Semua untuk Dia).
Yang mengambil "dunia wayang" dalam karyanya juga ada. Misalnya Petrus Agus Herjaka, Tales Ireng (Jogja) dan Jabrang (Solo). Kendati "bermodal khasanah" wayang, hasil citraan drawing mereka sangat berbeda.
Ada pula yang menggambar wajah tokoh-tokoh --pahlawan masa lalu maupun tokoh publik kekinian. Seperti Fahru Rozi (Bantul) yang menampilkan gambar Buya Syafii Maarif, Dien Syamsuddin, dan Bondan Nusantara. Atau Agus Klowor dengan wajah-wajah Pangeran Diponegoro, Jenderal Soedirman, HB IX, Bung Karno, Gus Dur dan lainnya. Keduanya menggunakan pensil hitam putih dengan hasil karya berbeda tapi tetap memikat dengan kekhasan goresannya.
Artikel Terkait
Gelar GoART! Ajak Bangkit Pariwisata Yogya
Dirut BOB Buka Pameran GoART, Saksi Kebangkitan Seni Jogja Timur
Presiden Ingin Ajang Seni Dirutinkan untuk Tarik Wisatawan. Persilakan Pemudik Berwisata ke Borobudur
HOBI: Ada Banyak Jenis Aglonema, Inilah 24 Jenis Kochin Beserta Kisaran Harga Jualnya. Ada yang Jutaan Rupiah
Bermain Game Bisa Sebabkan Gangguan Gaming Disorder. Begini Cara Mencegah agar Tidak Kecanduan
Waspada! Ada 11 Aplikasi Online yang Diduga Mencuri Data Pribadi Penggunanya. Di antaranya App Azan dan Shalat
Elon Musk Bakal Kenakan Tarif untuk Pengguna Twitter. Akun apa saja? Ini Rinciannya