TITIKTEMU.CO-Jakarta sering kali terasa seperti labirin beton yang menuntut produktivitas tanpa batas.
Sosiolog Ray Oldenburg pernah mengenalkan konsep penting bernama tempat ketiga atau third place.
Tempat pertama adalah rumah untuk pulang dan tempat kedua adalah kantor untuk bekerja.
Sementara tempat ketiga adalah ruang sosial netral untuk berkumpul dan melepas penat.
Baca Juga: Seni Napas Dulu: Kenapa Bertahan Hidup Hari Ini Sudah Setara Prestasi Juara Dunia
Idealnya tempat ini murah mudah diakses dan menjadi wadah interaksi sosial yang hangat.
Namun mari kita tengok realita kehidupan urban di kota Jakarta saat ini.
Di mana kamu biasanya menghabiskan waktu luang saat akhir pekan tiba?
Mayoritas warga Jakarta pasti akan menjawab mal kedai kopi komersial atau restoran mewah.
Baca Juga: Tren Anti-Tren 2026: Kenapa Perabot Rotan dan Kayu Jati Lokal Kembali Merajai Rumah Modern?
Ruang-ruang ini sayangnya mengharuskan kita untuk membeli sesuatu agar bisa duduk tenang.
Komersialisasi ruang telah mengubah hak warga untuk sekadar ada menjadi komoditas mahal.
Akibatnya interaksi sosial kita menjadi sangat transaksional dan dibatasi oleh daya beli.
Baca Juga: Kamu Bukan Malas, Kamu Cuma Lelah: Mengapa Gila Kerja Sebenarnya Adalah Alarm Trauma Pikiran