​'Third Place' Sudah Punah di Jakarta? Kenapa Kita Kehilangan Ruang untuk Sekadar Ada

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Kamis, 28 Mei 2026 | 10:37 WIB
Ilustrasi Jakarta kehilangan 'third place' menurut Ray Oldenburg? (Desain AI)
Ilustrasi Jakarta kehilangan 'third place' menurut Ray Oldenburg? (Desain AI)

TITIKTEMU.CO-Jakarta sering kali terasa seperti labirin beton yang menuntut produktivitas tanpa batas.

​Sosiolog Ray Oldenburg pernah mengenalkan konsep penting bernama tempat ketiga atau third place.

​Tempat pertama adalah rumah untuk pulang dan tempat kedua adalah kantor untuk bekerja.

​Sementara tempat ketiga adalah ruang sosial netral untuk berkumpul dan melepas penat.

Baca Juga: Seni Napas Dulu: Kenapa Bertahan Hidup Hari Ini Sudah Setara Prestasi Juara Dunia

​Idealnya tempat ini murah mudah diakses dan menjadi wadah interaksi sosial yang hangat.

​Namun mari kita tengok realita kehidupan urban di kota Jakarta saat ini.

​Di mana kamu biasanya menghabiskan waktu luang saat akhir pekan tiba?

​Mayoritas warga Jakarta pasti akan menjawab mal kedai kopi komersial atau restoran mewah.

Baca Juga: Tren Anti-Tren 2026: Kenapa Perabot Rotan dan Kayu Jati Lokal Kembali Merajai Rumah Modern?

​Ruang-ruang ini sayangnya mengharuskan kita untuk membeli sesuatu agar bisa duduk tenang.

​Komersialisasi ruang telah mengubah hak warga untuk sekadar ada menjadi komoditas mahal.

​Akibatnya interaksi sosial kita menjadi sangat transaksional dan dibatasi oleh daya beli.

Baca Juga: Kamu Bukan Malas, Kamu Cuma Lelah: Mengapa Gila Kerja Sebenarnya Adalah Alarm Trauma Pikiran

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Leihana

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Lirik Yalal Waton Latin, Arab, Arti, dan Penciptanya

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 20:24 WIB
X