Bukan Malas Tapi Lelah, Ini Alasan Gen Z Indonesia Pilih Hidup Cukup daripada Kejar Karier Gila-gilaan!

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Sabtu, 23 Mei 2026 | 11:06 WIB
Ilustrasi Gen Z lelah hustle culture dan konsumerisme. (Desain AI )
Ilustrasi Gen Z lelah hustle culture dan konsumerisme. (Desain AI )

TITIKTEMU.CO-Di tengah riuhnya kampanye media sosial yang tiada henti mendesak kita untuk membeli lebih banyak barang dan bekerja lebih keras, sebuah gerakan sunyi yang digerakkan oleh Generasi Z di Indonesia mulai mencuri perhatian.

Anak-anak muda ini tidak lagi terpikat oleh narasi kesuksesan yang diukur dari jam kerja tanpa batas atau kepemilikan barang-barang bermerek yang dipamerkan para pembuat konten di internet.

Fenomena de-influencing yang kini marak di media sosial menjadi bukti nyata bahwa mereka mulai lelah menjadi target konsumerisme dan memilih untuk jujur tentang apa yang sebenarnya mereka butuhkan.

Baca Juga: Tren Smart Home 2026: Investasi Hemat Energi atau Sekadar Pemborosan Gaya Hidup?

Di ruang kerja, penolakan terhadap hustle culture ekstrem juga semakin menguat karena mereka menyadari bahwa bekerja hingga mengorbankan kesehatan mental tidak lagi terasa keren atau membanggakan.

Bagi mereka, memilih kata "cukup" atau enough bukanlah sebuah bentuk kemalasan atau kepasrahan terhadap keadaan hidup yang serba sulit.

Ini adalah sebuah keputusan sadar dan berani untuk menarik rem darurat di tengah dunia yang terus-menerus memaksa mereka untuk mengejar kata "lebih" tanpa pernah ada ujungnya.

Baca Juga: Tren Frugal Living Menjamur, Mengapa Banyak Kafe dan Brand Fesyen Mulai Putar Otak?

Generasi Z menyaksikan bagaimana generasi sebelum mereka mengalami kelelahan mental akut atau burnout akibat mengorbankan kehidupan pribadi demi mengejar ambisi karier yang semu.

Realita ekonomi yang semakin menantang juga membuat mereka berpikir jauh lebih realistis dalam menentukan skala prioritas hidup sehari-hari.

Mereka lebih memilih untuk mengalokasikan energi dan penghasilan yang terbatas untuk kesehatan mental, kedamaian pikiran, serta hubungan sosial yang mendalam dan nyata.

Baca Juga: Terjebak Tren Gentle Parenting dan Isme Lainnya? Ini Alasan Label Gaya Asuh Justru Merusak Ibu dan Anak

Gaya hidup minimalis dan kesadaran untuk membatasi konsumsi barang yang tidak penting kini dianggap sebagai bentuk kendali diri yang sejati atas hidup mereka sendiri.

Saat seseorang memutuskan bahwa apa yang mereka miliki saat ini sudah cukup, mereka sebenarnya sedang membebaskan diri dari kecemasan sosial akibat terus membandingkan diri dengan orang lain.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Leihana

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X