Dalam sebuah scoping review, aktivitas fisik pada masyarakat Blue Zones banyak berasal dari pekerjaan, kegiatan rumah tangga, dan aktivitas luar ruangan. Pola ini membuat tubuh tetap aktif sebagai bagian dari rutinitas, bukan tugas tambahan.
Kota slow living idealnya mendukung kebiasaan semacam itu. Trotoar yang nyaman, ruang terbuka, pasar yang bisa dijangkau berjalan kaki, serta lingkungan yang memungkinkan orang bertemu tetangga bisa membuat aktivitas fisik dan interaksi sosial terjadi secara alami.
Rahasia Blue Zone Ternyata Bukan Sekadar Makanan
Kalau mendengar Blue Zone, orang sering langsung berpikir tentang makanan tertentu. Padahal, umur panjang tampaknya merupakan hasil dari kombinasi banyak kebiasaan.
Riset pada wilayah Blue Zones menemukan sejumlah pola yang berulang, seperti aktivitas fisik alami, hubungan sosial yang kuat, pola makan berbasis makanan utuh, serta adanya tujuan hidup dan rutinitas sosial.
Studi terhadap penduduk berusia 90 tahun ke atas di Ikaria, Yunani, misalnya, menemukan tingginya aktivitas fisik dan frekuensi interaksi sosial di antara responden. Ini tentu bukan berarti bersosialisasi otomatis membuat seseorang panjang umur, tetapi menunjukkan bahwa faktor sosial layak dilihat sebagai bagian dari gambaran yang lebih besar.
Jadi, Apakah Kota Slow Living Bikin Panjang Umur?
Belum ada dasar ilmiah untuk mengatakan bahwa sebuah kota slow living secara otomatis membuat penduduknya berumur lebih panjang. Indonesia juga belum memiliki wilayah yang secara resmi dikategorikan sebagai Blue Zone.
Baca Juga: Harga Emas Pekan Depan Bisa Naik-Turun Tajam, Ini Level yang Wajib Diperhatikan
Namun, data BPS tentang perbedaan umur harapan hidup antarwilayah memberi alasan untuk melihat lingkungan tempat tinggal dengan perspektif berbeda.
Mungkin yang penting bukan mencari kota yang paling santai, melainkan tempat yang membuat kita lebih mudah melakukan hal-hal sederhana: bergerak, tidur cukup, makan dengan baik, bertemu orang lain, dan punya waktu untuk bernapas.
Sebab, kalau kota membuat hidup sehat terasa seperti pekerjaan tambahan, mungkin masalahnya bukan kurangnya motivasi kita. Bisa jadi, desain kehidupan sehari-harinya yang perlu diubah.***
Artikel Terkait
Dulu Ditolak Jadi Pramugari, Perempuan Papua Ini Malah Membawa Pulang Lisensi Airbus A320
Harga Emas Pekan Depan Bisa Naik-Turun Tajam, Ini Level yang Wajib Diperhatikan
Tom Holland Sampai Bingung: Ternyata Adegan Gila di The Odyssey Bukan CGI!
Tangis Anak di Sisi Jenazah Ayah Diduga Pencuri Ayam di Bali Viral, Polisi Tetapkan Lima Tersangka Pengeroyokan
Kenapa Anak Muda Berbondong-bondong Pindah dari Jakarta, Bukan karena Macet?
Kenapa Anak yang Dimanja Bisa Lebih Rentan Depresi Saat Dewasa?
Kenapa Tinggal di Kota Seperti Jakarta Bikin Otak Cepat Lelah? Ini Penjelasan Ilmiahnya