TITIKTEMU.CO-Bangun pagi, suara kendaraan sudah terdengar. Keluar rumah, harus berhadapan dengan jalan yang padat. Di kantor, notifikasi terus masuk, sementara di perjalanan pulang otak kembali disuguhi klakson, kerumunan, polusi, dan deretan gedung. Kalau hidup di kota seperti Jakarta terasa melelahkan bahkan ketika pekerjaan tidak sedang luar biasa berat, mungkin masalahnya bukan sekadar kurang tidur.
Otak manusia memang tidak berevolusi untuk menghadapi kepadatan, kebisingan, dan rangsangan sebanyak kota modern setiap hari. Gagasan inilah yang ikut melandasi bidang neurourbanism, yang dikembangkan antara lain oleh psikiater dan peneliti kota Mazda Adli. Ia menyoroti bagaimana lingkungan perkotaan dapat memicu “city stress” dan bagaimana stres tersebut berpotensi memengaruhi kesehatan mental.
Baca Juga: Kenapa Anak yang Dimanja Bisa Lebih Rentan Depresi Saat Dewasa?
Kenapa Tinggal di Kota Seperti Jakarta Bikin Otak Cepat Lelah?
Otak manusia pada dasarnya adalah mesin yang terus menyaring informasi. Masalahnya, kota besar seperti Jakarta hampir tidak pernah berhenti memberikan informasi untuk disaring.
Suara kendaraan, orang yang berlalu-lalang, lampu, iklan, lalu lintas, percakapan, notifikasi ponsel, hingga kebutuhan untuk terus memperhatikan lingkungan sekitar membuat otak harus bekerja dalam mode waspada. Sesekali tidak masalah. Tetapi ketika berlangsung berjam-jam setiap hari, beban tersebut bisa terasa sebagai kelelahan mental.
Riset tentang lingkungan perkotaan juga menemukan hubungan antara sejumlah karakteristik kota—termasuk volume lalu lintas, kualitas lingkungan permukiman, dan ketersediaan ruang hijau—dengan psychological distress.
Baca Juga: Kenapa Anak Muda Berbondong-bondong Pindah dari Jakarta, Bukan karena Macet?
Kota Padat Membuat Otak Sulit Mendapat “Jeda”
Ada satu kebutuhan otak yang sering tidak kita sadari: jeda dari rangsangan.
Di alam, pandangan bisa berhenti pada pepohonan, langit, atau hamparan yang relatif tidak berubah. Di kawasan urban yang sangat padat, mata dan telinga justru berhadapan dengan objek serta aktivitas yang terus berganti.
Karena itu, ruang hijau bukan sekadar pemanis kota. Meta-analisis menemukan bahwa peningkatan proporsi ruang hijau sebesar 10 persen berkaitan dengan risiko depresi yang lebih rendah.
Baca Juga: Tom Holland Sampai Bingung: Ternyata Adegan Gila di The Odyssey Bukan CGI!
Penelitian terbaru mengenai soundscape ruang hijau perkotaan juga menunjukkan potensi suara alam dalam membantu mengurangi stres dan memperbaiki suasana hati, meski peneliti mengingatkan bahwa bukti kausal masih perlu diperkuat.
Artikel Terkait
Jangan Sampai Jadi Korban! TASPEN Perluas Kanal Resmi untuk Lawan Modus Penipuan
Dulu Ditolak Jadi Pramugari, Perempuan Papua Ini Malah Membawa Pulang Lisensi Airbus A320
Harga Emas Pekan Depan Bisa Naik-Turun Tajam, Ini Level yang Wajib Diperhatikan
Tom Holland Sampai Bingung: Ternyata Adegan Gila di The Odyssey Bukan CGI!
Tangis Anak di Sisi Jenazah Ayah Diduga Pencuri Ayam di Bali Viral, Polisi Tetapkan Lima Tersangka Pengeroyokan
Kenapa Anak Muda Berbondong-bondong Pindah dari Jakarta, Bukan karena Macet?
Kenapa Anak yang Dimanja Bisa Lebih Rentan Depresi Saat Dewasa?