TITIKTEMU.CO-Mungkin rahasia hidup panjang bukan selalu soal suplemen mahal atau rutinitas olahraga yang rumit. Bisa jadi, lingkungan tempat tinggal ikut memainkan peran. Di Indonesia, sejumlah daerah dengan ritme kehidupan yang lebih santai mulai menarik perhatian jika dikaitkan dengan konsep kota slow living dan bagaimana lingkungan dapat membentuk kebiasaan yang lebih sehat.
Istilah kota slow living bukan kategori resmi seperti Blue Zone. Ini lebih tepat dipakai untuk menggambarkan kota atau daerah yang memungkinkan warganya menjalani kehidupan dengan tempo yang tidak terlalu terburu-buru, lebih banyak aktivitas berjalan kaki, interaksi sosial, serta akses ke lingkungan yang relatif nyaman.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa umur harapan hidup memang berbeda disetiap daerah. Perbedaan ini menarik karena umur panjang tidak hanya berkaitan dengan faktor medis, tetapi juga kondisi sosial, ekonomi, lingkungan, dan kebiasaan sehari-hari.
Baca Juga: Kenapa Tinggal di Kota Seperti Jakarta Bikin Otak Cepat Lelah? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Kota Slow Living dan Hubungannya dengan Umur Panjang
Apakah tinggal di kota slow living otomatis membuat seseorang berumur panjang? Tentu tidak sesederhana itu.
Umur harapan hidup dipengaruhi banyak faktor, mulai dari akses layanan kesehatan, pendidikan, kondisi ekonomi, pola makan, kualitas lingkungan, hingga faktor biologis. Karena itu, tingginya angka harapan hidup suatu daerah tidak bisa langsung dianggap sebagai bukti bahwa gaya hidup santai menjadi penyebabnya.
Namun, konsep kota slow living menarik jika disandingkan dengan pelajaran dari Blue Zones. Istilah ini merujuk pada sejumlah wilayah yang dikenal memiliki populasi dengan proporsi orang berumur sangat panjang.
Baca Juga: Kenapa Anak yang Dimanja Bisa Lebih Rentan Depresi Saat Dewasa?
Riset mengenai Blue Zones menunjukkan bahwa aktivitas fisik sering kali bukan berupa olahraga terjadwal. Banyak aktivitas justru muncul secara alami dalam kehidupan sehari-hari.
Bergerak Tanpa Merasa Sedang Olahraga
Inilah bagian yang sering luput.
Orang yang setiap hari berjalan ke pasar, berkebun, membersihkan rumah, naik-turun tangga, atau bepergian dengan berjalan kaki sebenarnya sedang mengumpulkan aktivitas fisik tanpa harus menyisihkan satu jam khusus untuk pergi ke gym.
Baca Juga: Kenapa Anak Muda Berbondong-bondong Pindah dari Jakarta, Bukan karena Macet?
Artikel Terkait
Dulu Ditolak Jadi Pramugari, Perempuan Papua Ini Malah Membawa Pulang Lisensi Airbus A320
Harga Emas Pekan Depan Bisa Naik-Turun Tajam, Ini Level yang Wajib Diperhatikan
Tom Holland Sampai Bingung: Ternyata Adegan Gila di The Odyssey Bukan CGI!
Tangis Anak di Sisi Jenazah Ayah Diduga Pencuri Ayam di Bali Viral, Polisi Tetapkan Lima Tersangka Pengeroyokan
Kenapa Anak Muda Berbondong-bondong Pindah dari Jakarta, Bukan karena Macet?
Kenapa Anak yang Dimanja Bisa Lebih Rentan Depresi Saat Dewasa?
Kenapa Tinggal di Kota Seperti Jakarta Bikin Otak Cepat Lelah? Ini Penjelasan Ilmiahnya