Ketiga, ganti scrolling dengan aktivitas transisi singkat. Jalan sebentar, minum air, tarik napas, lihat langit, atau bicara dengan orang sekitar. Otak butuh jeda nyata, bukan hanya pergantian konten.
Keempat, kurasi akun yang kamu ikuti. Jika feed penuh hal yang memicu marah dan iri, wajar jika pikiran ikut kacau.
Pilih konten yang memberi nilai, bukan hanya memancing reaksi.
Doomscrolling bukan tanda kamu lemah. Itu tanda teknologi sangat pandai merebut perhatian.
Karena itu, kemenangan kecil hari ini mungkin bukan produktivitas besar, tetapi keberanian menutup aplikasi sebelum otakmu diambil lagi.***
Artikel Terkait
Baru 13 Hari Tayang, Film Ghost in the Cell Tembus 2 Juta Penonton dan Jadi Fenomena Baru di Bioskop Indonesia
Review Drakor If Wishes Could Kill (2026): Horor Sekolah dengan Aplikasi Pengabul Keinginan yang Berujung Kutukan
El Nino vs Musim Kemarau: Kenapa Cuaca Bisa Lebih Panas? BMKG Prediksi Puncak Kemarau 2026 Terjadi Agustus
Gen Z Mulai Tinggalkan Brand Mewah: Jika Bukan Logo Mahal, Lalu Apa yang Mereka Cari?
Suka Project Hail Mary? Ini 5 Film Sci-Fi Luar Angkasa yang Bikin Otak dan Emosi Ikut Terbang
Rumah Bukan Sekadar Tempat Tinggal: Kini Jadi Klinik Longevity untuk Hidup Lebih Panjang dan Sehat
Rencana Penghapusan Prodi Dinilai Berbahaya: Kampus Bisa Berubah Jadi “Pabrik Tenaga Kerja” Industri
Bukan Cuma Uang, Sekarang Orang Mulai Investasi pada Otak: Inilah Konsep “Brain Wealth”
Polisi Periksa Sopir Taksi dan Masinis Usai Kecelakaan KRL–KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur
UTBK 2026 Berakhir Kapan? Ini Tanggal Terakhir Tes yang Wajib Diketahui Calon Mahasiswa