Ini bukan buku keuangan yang penuh rumus, tapi penuh cerita yang relate banget.
Kamu akan belajar bahwa keputusan uang sering dipengaruhi emosi, pengalaman, dan cara berpikir, bukan sekadar logika.
Ilmunya bikin kamu lebih bijak, mentalnya bikin kamu lebih tenang soal uang.
Baca Juga: Cashless Society: Dampak Pembayaran Digital pada Perilaku Konsumen
4) Grit — Angela Duckworth
Banyak orang pintar, tapi tidak semua bertahan.
Buku ini membahas kenapa ketekunan dan konsistensi sering lebih penting daripada bakat.
Kalau kamu lagi ingin jadi pribadi yang tahan banting, Grit bisa jadi bahan bakar yang kuat.
5) The Subtle Art of Not Giving a F*ck — Mark Manson
Buku ini gaya bahasanya santai, tapi isinya dalam.
Intinya: kamu tidak harus peduli pada semua hal, karena energi hidupmu terbatas.
Mental kuat bukan berarti kebal, tapi tahu mana yang layak dipikirkan dan mana yang bisa dilepas.
6) Ikigai — Hector Garcia & Francesc Miralles
Kalau kamu lagi merasa hidup “kok gini-gini aja”, Ikigai bisa jadi pengingat yang hangat.
Buku ini membahas konsep hidup bermakna dari Jepang, dengan cara yang ringan dan menenangkan.
Artikel Terkait
Netflix Meledak di Akhir Januari 2026: 3 Drama Korea Ini Paling Banyak Ditonton, Nomor 1 Tembus 9 Juta Views!
Lisa BLACKPINK dan Don Lee Syuting Film di Bekasi–Depok: Ini Daftar Lokasi dan Jadwal Rekayasa Lalin
IHSG Ambruk 2 Hari, Pejabat BEI-OJK Mundur Beruntun: Apa Sinyal Bahaya untuk Investor?
Mulai 2 Februari, 10 Surat Tanah Ini Sudah Tak Berlaku, Cek Daftarnya KOMENTAR: 1 Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+ Kompas.com Tren Mulai S
Kasus Hogi Minaya Resmi Dihentikan, Pria Asal Sleman Ini Ingin Kembali Jalani Hidup Normal
Longsor Terjang Bantaran Kali Bekasi di Tambun Utara, Enam Rumah Warga Terdampak
Cashless Society: Dampak Pembayaran Digital pada Perilaku Konsumen
Onadio Leonardo Buka Suara Usai Rehabilitasi Narkoba, Akui Alami Sindrom Peter Pan: Apa Itu?
Viral! Banjir Rendam Bekasi, Aksi Bapak-Bapak Bernyanyi di Tengah Genangan Bikin Haru Warganet
Viral Emak-Emak Bekasi Curhat ke Banjir: “Cukup Sampai Sini Ya, Jangan Balik Lagi”