Warisan Sang Ayah
Kisah roti bakar ini tak lepas dari jejak sang ayah, yang sudah lebih dulu berjualan sejak tahun 1970-an. Dari ayahnya, Suradi belajar cara memanggang roti di atas bara arang, bukan kompor gas.
Setiap tangkup roti diolesi mentega dan gula pasir, bukan selai atau cokelat seperti tren roti bakar kekinian yang ada di kafe-kafe.
“Kalau pakai selai bisa gosong. Gula pasir itu pas, bikin manis dan tetap renyah,” ujar Suradi.
Suara “krek-krek” dari roti yang terkena arang berpadu dengan aroma asap manis mentega, menciptakan sensasi nostalgia yang menghangatkan, membuat antrean makin tak sabar.
Baca Juga: Hidup di Era Flexing: Antara Tekanan Sosial, Gaya Hidup, dan Kesehatan Finansial
Metode Tradisional yang Dipertahankan
Dalam dunia kuliner modern yang serba cepat, metode pemanggangan ala Suradi bisa dibilang langka. Tapi, di lapak Suradi semua dilakukan secara manual.
Bara arang dijaga agar tetap menyala, roti dibolak-balik, dan kipas bambu terus digerakkan agar panas merata. Tak ada alat otomatis, tak ada timer digital. Hanya kepekaan dan pengalaman yang menentukan kapan roti matang sempurna.
“Kalau pakai alat modern, rasanya beda. Pelanggan datang ke sini karena pengin rasa yang asli, kayak dulu,” katanya.
Roti Legendaris dari Pabrik Tua
Keistimewaan lain dari roti bakar Suradi ada pada bahan utamanya. Ia menggunakan roti tawar dari pabrik roti ABC, salah satu produsen tertua di Wonosobo yang berdiri sejak tahun 1928.
Roti ini punya tekstur lebih padat dan kenyal, sehingga ketika dipanggang, bagian luar menjadi garing sementara bagian dalamnya tetap lembut.
“Saya masih kulakan di ABC, tapi sekarang mereka pindah ke Setiyung,” ujar Suradi.
Menurutnya, tekstur dan aroma roti dari pabrik itu tak bisa digantikan merek modern. Kombinasi antara roti jadul, gula pasir, dan bara arang menjadikan rasa roti bakarnya tetap otentik meski zaman berubah.
Artikel Terkait
Waktu Berjalan Lambat di Desa Sukomakmur, Tempat Indah yang Menenangkan
Suasana Pagi Seperti Tak Pernah Usai di Desa Ini...
Mimpi Slow Living: Benarkah Hidup di Desa Bakal Selalu Nyaman?
Slow Living: Hidup di Desa itu Indah, Tapi Tidak Selalu Mudah
Di Desa Nglanggeran, Siapa Pun yang Datang Merasa Seperti Pulang ke Rumah Sendiri