Dengan kondisi tersebut, wajar jika banyak orang merasa tenang tinggal di sana, bahkan bagi pensiunan yang hidup berdua atau sendiri.
Baca Juga: Slow Living: Hidup di Desa itu Indah, Tapi Tidak Selalu Mudah
Biaya Hidup Relatif Murah
Selain aman, biaya hidup di Temanggung juga tergolong rendah dibanding kota besar seperti Semarang atau Yogyakarta.
Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), rata-rata pengeluaran masyarakat Temanggung per kapita per bulan sekitar Rp1,06 juta.
Dari angka tersebut, sekitar 51% untuk kebutuhan makanan dan 49% untuk kebutuhan nonmakanan seperti perumahan, pajak, atau keperluan sosial.
Kondisi alam Temanggung yang subur membuat banyak warga mampu memenuhi kebutuhan pangan dari hasil kebun sendiri. Sayur, buah, bahkan bumbu dapur seperti cabai atau tomat bisa ditanam di pekarangan.
Hal inilah yang menekan biaya hidup dan membuat hidup di Temanggung terasa ringan serta mandiri.
Baca Juga: Pantai VS Pegunungan : Mana yang Paling Cocok untuk Gaya Hidup Slow? Ini Rekomendasi Kota yang Cocok
Akses dan Transportasi Mudah
Meski berada di tengah pegunungan dan dikelilingi Gunung Sumbing dan Sindoro, akses menuju Temanggung cukup mudah. Lokasinya strategis, berada di jalur penghubung utama Semarang–Yogyakarta.
Transportasi umum seperti bus antarkota dan antarprovinsi (AKAP) juga masih aktif melayani berbagai rute ke Temanggung.
Jadi, meski terkesan terpencil, sebenarnya kota ini cukup terhubung dengan pusat ekonomi dan wisata di Jawa Tengah.
Lingkungan Hidup Sehat dan Sejuk
Keunggulan lain dari Temanggung adalah kualitas lingkungan hidupnya yang masih tergolong baik. Berdasarkan RKPD 2025, Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) Temanggung termasuk kategori baik dengan skor 74,83.
Artikel Terkait
5 Kota Terbaik untuk Slow Living, Bukan Jogja atau Solo!
Slow Living vs Hustle Culture: Hidup Bukan Lomba Lari, Bro!
Salatiga, Kota 'Selow' yang Cocok untuk Slow Living, Ini Alasannya
Slow Living itu Tidak Sama dengan Bemalas-malasan