Kedai Koplink dan Rumah Kopi D’Waroeng (RKD) adalah dua dari belasan kedai kopi yang setia menyajikan kopi-kopi lokal dari Papua Selatan sebagai menu utama. Tidak hanya menyajikan kopi seduh olahan juga menjual biji kopi yang disangrai atau yang sudah digiling sebagai oleh-oleh.
Pemilik Rumah Kopi D’Waroeng (RKD) Merauke, Jasman Trismanto mengakui kopi-kopi terutama di Muting adalah kopi dari hasil tanam transmigran pada kurun 80--90-an yang datang ke Merauke. Hanya saja kopi-kopi itu sempat ditelantarkan oleh pemiliknya karena dipandang tidak ekonomis.
Baca Juga: Rencana Diresmikan Presiden Desember 2021, Waduk Pidekso Wonogiri Mulai Diisi Air
Jasman membeli kopi-kopi masyarakat itu untuk dijual di kedainya. Bahkan sejumlah kafe di Jakarta juga sering mengorder kopi Jasman. Menurutnya, panenan kopi di Merauke belum terlalu besar, masih sekitar 500--800 kg per tahun. Tapi sekarang Jasman mengajak sejumlah petani untuk menanam kembali.
Belakangan ini pria yang keturunan Jawa ini menularkan pengetahuannya mengolah pascapanen kopi, yang tak lagi hanya dengan cara natural yakni petik jemur, tapi juga washed dan semi washed.
“Cuma kendalanya kami belum punya huller atau pengupas kulit. Sehingga menyulitkan untuk proses washed,” kata polisi berpangkat Bripka yang sehari-harinya bekerja sebagai Kanit Binmas di Polsek Muting, Kabupaten Merauke.
Baca Juga: Bila Kemarau Tiba, 5 Desa di Kaki Gunung Merapi di Boyolali, Kekeringan
Papua sekarang dikenal sebagai penghasil kopi yang bercita-rasa tinggi. Dari hanya mengenal kopi robusta Monemane atau kopi arabica Wamena, kini muncul banyak tempat penghasil kopi di Papua. Kopi Amungme dari daerah Mimika, Kopi Oksibil dari pegunungan Bintang, Kopi Tiom dari Lany Jaya, dan lain-lain.
Keunikan rasa kopi Papua sangat beragam, mulai dari aroma cokelat dan floral, asam yang sedang, sampai body yang medium. Kadang juga muncul rasa herb, dan mangga.
Kopi beraroma floral ini jarang ditemui disebabkan oleh ketinggian lahan tanam. Semakin tinggi lahan tanamnya dari permukaan laut, semakin kaya rasa.
Baca Juga: Cemburu Mantan Istri Nikah Lagi, Seorang Pria Bantai Mantan Anak Tiri
Kopi-kopi itu berasal dari ketinggian lebih dari 1.500 dpl. Bahkan kopi Tiom berasal dari ketinggian 2.150 dpl. Tak heran banyak orang mencari kopi-kopi dari pegunungan tengah Papua.
Dan 2018, kopi Tiom mampu memenangkan lelang dengan harga 5,3 juta rupiah per kilogram green bean atau biji kopi pasca olah dan siap sangrai.
Sementara kopi-kopi yang berasal dari perbatasan Merauke-PNG lebih banyak berjenis robusta, karena ketinggiannya yang tak lebih dari 100 meter di atas permukaan laut.
Baca Juga: Newcastle United Tumbang Atas Tottenham Hotspur 2-3 di St James Park
Artikel Terkait
Desa Wisata Samiran, Menikmati Kopi dan Jadah Bakar di Lereng Merapi-Merbabu
13 Manfaat Ampas Kopi, dari Anti Nyamuk hingga Mempercantik Wajah
Kopi Lokal Papua Bersiap Go Global
Apa Saja Bahan-bahan yang Dibutuhkan Kedai Kopi? Ini Daftar Lengkap dan Harganya
Kopi Excelsa Banyuanyar, Kutunggu Datangmu di Lereng Lereng Merbabu
Asyiknya Wisata Petik Kopi di Kebun Mbah Setro Banyuanyar