Namun efeknya tidak berhenti di ruang rapat bank atau meja analis ekonomi.
Saat seseorang memperoleh kredit untuk membuka usaha, membeli barang, atau menjalankan aktivitas bisnis, uang tersebut akan berpindah tangan. Pedagang menerima pembayaran, pemasok memperoleh pendapatan, dan sebagian dana akhirnya kembali masuk ke perbankan dalam bentuk tabungan maupun simpanan.
Baca Juga: Libur Sekolah ke Taman Safari Bogor? Siap-Siap Kaget dengan Tarif Terbarunya Tahun 2026
Inilah yang disebut efek berantai dalam sistem keuangan.
Purbaya memberikan ilustrasi sederhana. Seseorang di daerah meminjam dana dari bank, lalu menggunakan uang itu untuk membeli makanan. Penjual makanan menerima pembayaran dan menyimpan hasil usahanya di bank lain, bisa bank daerah maupun bank perkreditan rakyat. Pada akhirnya, uang tersebut kembali berputar di dalam ekosistem perbankan nasional.
Karena itulah pemerintah menilai kebijakan penempatan dana SAL bukan hanya membantu Himbara, tetapi juga dapat memberikan dampak yang lebih luas ke seluruh sistem ekonomi.
Di tengah tantangan ekonomi global dan kebutuhan menjaga pertumbuhan nasional, suntikan likuiditas Rp400 triliun ini menjadi sinyal bahwa pemerintah tidak ingin mesin kredit kehilangan tenaga. Kini perhatian tertuju pada satu hal: apakah dana jumbo tersebut benar-benar mampu mendorong kredit tumbuh lebih cepat dan menjaga ekonomi tetap melaju di jalurnya.***
Artikel Terkait
Apa Itu Inner Child dan Kenapa Ia Bisa Sabotase Cara Kamu Mengasuh Anak?
Banyak yang Lewatkan Kesempatan Ini: Kemenhaj Cari 282 Pejabat Baru, Pendaftaran Dibuka Sebentar Lagi
Libur Sekolah ke Taman Safari Bogor? Siap-Siap Kaget dengan Tarif Terbarunya Tahun 2026
Perbedaan Pola Asuh Suami-Istri: Bencana atau Justru Aset?
Penghasilan Rp15 Juta di Jakarta vs Rp8 Juta di Semarang — Mana yang Lebih Kaya?
Apa yang Terjadi Setelah Orang Jakarta Pindah ke Kota Kecil? Ini 12 Bulan Pertamanya
Purbaya Respons Polemik Pajak JHT BPJS Ketenagakerjaan, Buruh Masih Keberatan