TITIKTEMU.CO-Bayangkan sebuah mesin besar bernama ekonomi mulai kehilangan pelumasnya. Rodanya masih berputar, tetapi tidak sehalus sebelumnya. Di titik itulah pemerintah memutuskan kembali menyuntikkan dana raksasa ke sektor perbankan, nilainya bahkan mencapai Rp400 triliun.
Langkah ini bukan sekadar memindahkan uang dari satu tempat ke tempat lain. Pemerintah berharap tambahan likuiditas tersebut bisa menjaga laju pertumbuhan kredit sekaligus mencegah perbankan mengalami tekanan yang lebih dalam.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa dana yang ditempatkan kembali di bank-bank milik negara atau Himbara merupakan respons terhadap kondisi likuiditas yang mulai mengetat.
Baca Juga: Purbaya Respons Polemik Pajak JHT BPJS Ketenagakerjaan, Buruh Masih Keberatan
Sebelumnya, sebagian dana yang berasal dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) sempat ditarik pemerintah dari sistem perbankan. Setelah penarikan itu terjadi, sejumlah bank mulai merasakan dampaknya. Bahkan, menurut Purbaya, para pimpinan bank menyampaikan langsung kekhawatiran mereka mengenai potensi perlambatan kredit jika kondisi tersebut tidak segera diatasi.
Di tahap awal, dana yang tersisa di Himbara berada di kisaran Rp170 triliun. Pemerintah kemudian menambahnya menjadi Rp200 triliun dengan tenor jangka panjang.
Belum berhenti di situ, Kementerian Keuangan kembali menyuntikkan dana Rp100 triliun dengan jangka waktu sekitar tiga hingga empat bulan. Penambahan terbaru senilai Rp100 triliun berikutnya juga diberikan dengan tenor yang lebih fleksibel.
Baca Juga: Penghasilan Rp15 Juta di Jakarta vs Rp8 Juta di Semarang — Mana yang Lebih Kaya?
Jika dijumlahkan, total dana yang kembali mengalir ke sistem perbankan mencapai sekitar Rp400 triliun.
Mengapa angka sebesar itu dianggap penting?
Jawabannya ada pada fungsi dasar bank. Ketika likuiditas tersedia dalam jumlah cukup, ruang gerak bank untuk menyalurkan kredit menjadi lebih besar. Kredit yang mengalir ke masyarakat kemudian berubah menjadi aktivitas ekonomi nyata, mulai dari belanja konsumsi, investasi usaha, hingga ekspansi bisnis.
Purbaya bahkan memperkirakan pertumbuhan kredit berpotensi mencapai kisaran 14 hingga 15 persen apabila ketersediaan dana tetap terjaga. Dalam kondisi seperti itu, biaya dana bagi bank juga bisa lebih rendah sehingga tekanan terhadap suku bunga menjadi berkurang.
Sederhananya, ketika bank memiliki lebih banyak "amunisi", peluang masyarakat mendapatkan pembiayaan juga semakin terbuka.
Artikel Terkait
Apa Itu Inner Child dan Kenapa Ia Bisa Sabotase Cara Kamu Mengasuh Anak?
Banyak yang Lewatkan Kesempatan Ini: Kemenhaj Cari 282 Pejabat Baru, Pendaftaran Dibuka Sebentar Lagi
Libur Sekolah ke Taman Safari Bogor? Siap-Siap Kaget dengan Tarif Terbarunya Tahun 2026
Perbedaan Pola Asuh Suami-Istri: Bencana atau Justru Aset?
Penghasilan Rp15 Juta di Jakarta vs Rp8 Juta di Semarang — Mana yang Lebih Kaya?
Apa yang Terjadi Setelah Orang Jakarta Pindah ke Kota Kecil? Ini 12 Bulan Pertamanya
Purbaya Respons Polemik Pajak JHT BPJS Ketenagakerjaan, Buruh Masih Keberatan