Perbedaan Pola Asuh Suami-Istri: Bencana atau Justru Aset?

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Minggu, 28 Juni 2026 | 10:34 WIB
Ilustrasi Perbedaan pola asuh suami-istri tidak selalu buruk.  (Desain AI)
Ilustrasi Perbedaan pola asuh suami-istri tidak selalu buruk. (Desain AI)

TITIKTEMU.CO-Banyak pasangan mengira tantangan terbesar setelah memiliki anak adalah kurang tidur. Padahal, bagi sebagian keluarga, ujian yang lebih berat justru datang dari perbedaan pola asuh suami-istri.

Satu orang tua ingin anak lebih disiplin. Yang lain lebih mengutamakan pendekatan lembut. Satu percaya anak harus belajar dari konsekuensi. Yang lain tidak tega melihat anak menangis terlalu lama.

Perbedaan ini sering memicu perdebatan yang melelahkan. Namun pertanyaannya, apakah perbedaan pola asuh selalu buruk? Atau justru bisa menjadi aset berharga bagi perkembangan anak?

Baca Juga: Apa Itu Inner Child dan Kenapa Ia Bisa Sabotase Cara Kamu Mengasuh Anak?

Mengapa Perbedaan Pola Asuh Hampir Tidak Terhindarkan?

Setiap orang dewasa membawa "koper pengalaman" masing-masing ke dalam pernikahan.

Cara seseorang dibesarkan, nilai yang diajarkan keluarga, pengalaman masa kecil, hingga lingkungan sosial akan memengaruhi pandangannya tentang cara mendidik anak.

Misalnya, seseorang yang tumbuh dalam keluarga sangat disiplin mungkin percaya aturan yang tegas adalah bentuk kasih sayang. Sementara pasangannya yang dibesarkan dengan pendekatan lebih hangat bisa memandang kedekatan emosional sebagai prioritas utama.

Karena latar belakangnya berbeda, wajar jika pendekatan terhadap anak juga tidak selalu sama.

Baca Juga: Kota Paling Ramah Pejalan Kaki di Indonesia — Versi Data

Masalahnya Bukan Perbedaannya, Tetapi Cara Mengelolanya

Penelitian dalam psikologi keluarga menunjukkan bahwa anak tidak membutuhkan orang tua yang identik. Yang lebih penting adalah adanya konsistensi dalam nilai dasar yang diajarkan.

Konflik biasanya muncul bukan karena perbedaan pendapat itu sendiri, melainkan karena orang tua saling melemahkan di depan anak.

Contohnya:

  • Ayah melarang, ibu langsung membolehkan.
  • Ibu menetapkan aturan, ayah membatalkannya.
  • Salah satu orang tua mengkritik pasangan di depan anak.

Situasi seperti ini membuat anak bingung tentang batasan yang sebenarnya berlaku.

Baca Juga: Libur Sekolah ke Taman Safari Bogor? Siap-Siap Kaget dengan Tarif Terbarunya Tahun 2026

Ketika Perbedaan Justru Menjadi Kekuatan

Menariknya, anak bisa mendapatkan manfaat dari dua gaya pengasuhan yang berbeda.

Anak Belajar Fleksibilitas

Dalam kehidupan nyata, tidak semua orang berpikir dengan cara yang sama. Ketika melihat ayah dan ibu memiliki sudut pandang berbeda tetapi tetap saling menghormati, anak belajar bahwa perbedaan bukan ancaman.

Kebutuhan Anak Lebih Terakomodasi

Ada saat ketika anak membutuhkan struktur dan aturan. Ada pula saat ketika mereka membutuhkan empati dan pelukan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Leihana

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X