Ketika banyak pesantren mulai menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan zaman, KH. Anwar Manshur memilih untuk mempertahankan sistem pendidikan salaf yang menjadi ruh Lirboyo.
“Prinsipnya sederhana tetapi kuat, melestarikan yang lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik,” tulis LP2M UIT Lirboyo.
Kiai Anwar bahkan pernah menolak tawaran dari Kementerian Agama untuk menyesuaikan kurikulum, dengan alasan menjaga kemurnian warisan para pendahulu.
“Kami tidak ingin kehilangan ruh salaf yang telah diwariskan oleh para kiai,” tegasnya dalam satu kesempatan di Kediri pada tahun 2023.
5. Keteladanan dalam Kesederhanaan
Di luar kedudukannya sebagai ulama besar, Kiai Anwar Manshur dikenal memiliki gaya hidup yang sangat sederhana.
Rumahnya yang bersahaja di lingkungan pesantren selalu terbuka bagi siapa pun yang ingin sowan atau meminta nasihat.
“Santri itu bukan hanya pandai membaca kitab, tetapi juga harus berakhlak dan menjaga hati,” pesan Kiai Anwar dalam salah satu pengajiannya di Lirboyo.
Kesederhanaan itu menjadi teladan bagi ribuan santri yang setiap hari menyaksikan langsung bagaimana beliau hidup dalam keikhlasan dan pengabdian.
Baca Juga: OJK Ungkap Kerugian Akibat Penipuan Keuangan Capai Rp7 Triliun, Indonesia Tertinggi di Dunia?
6. Sosok Pemersatu dan Penjaga Warisan Pesantren
Bagi masyarakat Kediri dan kalangan pesantren di Jawa Timur, KH. Anwar Manshur bukan sekadar pengasuh Lirboyo, tetapi penjaga nilai-nilai keislaman tradisional yang mengedepankan adab, kesantunan, dan keteguhan iman.
Keteguhan beliau dalam mempertahankan ajaran salaf dan kesederhanaan hidup menjadikan Kiai Anwar sebagai simbol keistiqamahan dan keteladanan ulama pesantren Nusantara.
Hingga kini, nama beliau terus menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda yang ingin meneladani semangat belajar dan keikhlasan dalam berjuang di jalan ilmu.***