TITIKTEMU.CO - Balita membutuhkan waktu tidur dan kualitas tidur yang baik untuk menunjang tumbuh kembangnya serta untuk mengisi energinya. Sebagian besar balita mungkin dapat tidur dengan nyenyak di sepanjang waktu tidurnya.
Namun ada beberapa info, sejumlah balita memiliki kebiasaan aneh saat tidur seperti mudah tersentak, mengigau, hingga mendengkur.
Apakah itu hal yang normal? Nah kali ini kita akan membahas kebiasaan tidur balita yang harus diwaspadai oleh orang tua.
Baca Juga: Istri seorang Briptu unggah video surat terbuka ke Kapolres Tegal Kota. Ini isi videonya
- Mendengkur Terlalu Keras Dan Berkelanjutan
Mendengkur atau mengorok sebenarnya termasuk dalam kebiasaan tidur yang normal bagi balita. Namun yang perlu diwaspadai ialah jika si kecil mendengkur dengan terlalu keras dan terjadi secara continue atau berkelanjutan.
Hal ini mungkin dapat disebabkan oleh adanya penyumbatan di tenggorokan anak, amandel atau adanya pembesaran pada kelenjar gondok anak.
Jadi amati tidur si kecil dan segera konsultasikan hal tersebut ke dokter anak jika anak mengalami gejala ini.
Baca Juga: Oliver Giroud Loloskan AC Milan ke Babak 16 Besar Liga Champions dan Hasil Lengkap Penyisihan
- Menggertakkan Giginya
Saat tidur beberapa balita ada yang suka menggerakkan giginya. Hal ini ia lakukan di luar kesadarannya mungkin hal tersebut memang terlihat sepele, namun jika terus-menerus dilakukan dikhawatirkan gigi si kecil akan mengalami pengikisan gigi.
Oleh karenanya jika si kecil mengalami kebiasaan ini orangtua bisa berkonsultasi pada dokter gigi untuk melakukan pencegahan pengikisan pada gigi anak serta untuk mengatasi kebiasaan tersebut.
Baca Juga: Cerita Bersambung: Surgamu_Menyiksaku By. Sinar Cinta Part 4
- Mengalami Sleep Apnea
Sleep Apnea adalah kondisi saat seseorang berhenti bernafas sejenak saat tidurnya. jika hal ini terjadi pada balita, ia mungkin akan terbangun secara tiba-tiba untuk kemudian mengambil nafas yang Panjang.
Sleep Apnea yang terjadi pada anak tentu dapat mengganggu kualitas tidur anak dan beresiko menyebabkan masalah perilaku serta kemampuan belajar anak jika terjadi dalam jangka waktu yang pendek.
Namun jika terus berlangsung dan dalam jangka waktu yang panjang berisiko menjadi faktor penyebab terjadinya tekanan darah tinggi saat anak beranjak remaja.